Home   Makalah   Bahasa Tubuh dalam Public Speaking

Bahasa Tubuh dalam Public Speaking
bahasa tubuh
deviantart.com

Pengertian Bahasa Tubuh

Bahasa Tubuh adalah komunikasi pesan nonverbal (tanpa kata-kata). Bahasa tubuh merupakan proses pertukaran pikiran dan gagasan dimana pesan yang disampaikan dapat berupa isyarat, ekspresi wajah, pandangan mata, sentuhan, artifak (lambang yang digunakan), diam, waktu, suara, serta postur dan gerakan tubuh. (Richard E. Potter dan Larry A. Samoval, Intercultural Communication, 2006:268).

Ekspresi wajah menunjukkan perasaan. Postur tubuh mencerminkan kecenderungan sikap dan keadaan emosi. Gerakan anggota tubuh memperlihatkan tekanan pada apa yang ingin kita sampaikan.

Fungsi Bahasa Tubuh
Pesan nonverbal atau bahasa tubuh memiliki lima fungsi sebagaimana dikemukakan Knapp, M.L. dalam Nonverbal Communication in Human Interaction, New York: Holt, Rinehart, and Winston.

  1. Repetisi — Mengulang kembali gagasan yang sudah disampaikan secara verbal.
  2. Subtitusi — Menggantikan lambang verbal.
  3. Kontradiksi — Menolak sebuah pesan verbal dengan memberikan makna lain menggunakan pesan nonverbal.
  4. Pelengkap — Melengkapi dan memperkaya pesan nonverbal.
  5. Aksentuasi — Menegaskan pesan nonverbal.

Pantangan Bahasa Tubuh
Dalam literatur Komunikasi Public Speaking, ada sejumlah pantangan dalam bahasa tubuh, seperti jangan menggunakan tekanan suara atau ekpresi wajah yang bertentangan dengan kata-kata yang Anda ucapkan dan yang memberi kesan berbeda dengan cara Anda pikirkan. 

Anda harus mengontrolnya dengan cermat pada saat berkomunikasi dengan orang lain. Juga, ingatlah selalu bahwa bahasa tubuh yang diperlihatkan audience Anda akan memberi tahu Anda apakah sikap Anda dalam berkomunikasi efektif atau tidak. 

Berikut ini adalah sejumlah contoh bahasa tubuh yang sebaiknya Anda terapkan dan yang sebaiknya Anda hindari dalam public speaking, khususnya pidato dan presentasi.

1. Bersedekap. Memberi kesan santai sekaligus angkuh. 

2. Kedua tangan di samping, lurus ke bawah. Memberi kesan sigap dan, oleh karena itu, tampak enak dilihat meskipun menimbulkan juga kesan bagai “orang yang siap menerima
perintah”. Sikap seperti ini sama sekali tidak dianjurkan.

3.  Alis terangkat. Bagi orang yang memperhatikannya, sikap ini akan langsung menunjukkan bahwa Anda seorang yang ramah, merasa gembira akan kehadiran orang yang Anda ajak bicara, dan mengharapkan, serta menghargai respon darinya.

Cobalah Anda salami seorang rekan Anda tanpa sekejap pun mengangkat alis Anda – hampir tidak mungkin, bukan? Dalam berbagai kesempatan, seperti pertemuan kecil, sikap ini sangat baik untuk menunjukkan bahwa Anda sedang mengharapkan persetujuan, pertanyaan, atau sumbangan saran dari siapa saja teman Anda berkomunikasi. 

Satu poin, satu kaya “ya” yang diucapkan secara bersahabat, dan alis yang terangkat akan membuat pertanyaan-pertanyaan serta saran terus mengalir.

4.  Jari telunjuk menyentuh ibu jari, seperti jika Anda memegang jarum. Sikap jari tangan seperti ini mengkomunikasikan seseuatu yang penting. Cara yang baik untuk menenkankan poin-poin yang lebih penting dalam presentasi Anda. 

Tetapi tunjukkanlah sikap ini hanya bila benar-benar diperlukan saja. Bila Anda sering menggunakkannya, kekuatan maknanya akan jadi berkurang, justru pada saat Anda ingin menyampaikan poin-poin yang lebih Anda tekankan.

5.  Gerakan tangan seolah-olah memukul-mukul dengan bagian sisi telapak tangan. Menegaskan sesuatu yang mau tidak mau harus dilakukan. Coba lakukan gerakan ini sesuai dengan ritme ketika mengucapkan kata-kata ini : “Kita harus mencapai target kita sebelumbulan Juni”

6.  Menganggukkan atau menggelengkan kepala. Merupakan bahasa tubuh yang terlihat jelas, demikian juga maksud yang disampaikannya. Oleh sebab itu, sikap ini pun sebaiknya dilakukan bila memang benar-benar diperlukan. Jika Anda sependapat dengan pendapat seorang audienceAnda cukup melakukan dua kali anggukan. 

Sekali untuk mendorong anggota itu menyelesaikan sarannya dan sekali lagi pada saat ia selesai menyampaikan pendapatnya, dan Anda bisa menambahkan dengan ‘ya’ atau ‘saya sependapat dengan Anda’. Terlalu sering mengangguk akan sangat menjengkelkan, apalagi dibumbui dengan ‘he-eh, he-eh…’

7.  Mengusap-usap wajah, menggaruk-garuk kepala, mengusap-usap dagu  harus dihindari karena menunjukkan perasaan terancam, kurang percaya diri, atau kehabisan kata-kata.

8.  Bola mata bergerak ke atas. Menunjukkan bahwa Anda sedang berkonsentrasi untuk memberikan sebuah jawaban. Anda sedang mempertimbangkan apa yang baru saja dilontarkan audience, memikirkannya, menilainya, lalu mengaitkannya dengan pokok bahasan Anda. 

Disertai dengan anggukan-anggukan kecil serta mimik bibir terkatup, sikap Anda itu menunjukkan bahwa Anda sedang berkonsentrasi dan menganggap serius komentar yang dilontarkan kepada Anda.

Tetapi semua itu, sebenarnya berlangsung hanya selama dua detik, sebab jika lebih lama daripada waktu itu Anda akan kehilangan perhatian dan kontak mata dengan audience

9. Mengepalkan kedua tangan di atas meja. Menunjukkan sikap Anda yang tidak bisa ditawar lagi mengenai pokok pembicaraan – topik-tpok yang sangat Anda yakini dan Anda siap mempertahankannya sekuat tenaga. Sekap ini pun disarankan untuk dilakukan hanya bila Anda memang betul-betul harus melakukannya. Jika tidak, pengaruhnya akan melemah. (komunikasiuinbandung.info).*

Referensi:
Locker, Kitty O., Business and Administrative Communication, Irwin Mc.Graw-Hill, International Edition, 2000.
Wursanto, Ig., Etika Komunikasi Kantor, Kanisius, 2000.
Making Effective Presentations, Gramedia, 1995.

Share Button
(Visited 506 times, 2 visits today)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *