Home   Opini   Bandung dan Dinamika Kehidupan Beragama

Bandung dan Dinamika Kehidupan Beragama
KH Miftah Faridl
Oleh Prof. Dr. KH.Miftah Faridl
Harus diakui bahwa sejak awal sejarahnya Bandung tumbuh di tengah arus pluralitas kehidupan yang dinamis. Pluralitas dinamis seperti ini sesungguhnya yang belakangan sering dikaji dalam kerangka civil society, atau dalam terminologi lain biasa juga disebut masyarakat madani. 
Secara sederhana ia dipandang sebagai tatanan masyarakat yang berperadaban (civilized society), yakni masyarakat yang dibangun di atas nilai-nilai universalitas kemanusiaan. 
Nilai-nilai ini secara normatif bersumber pada ajaran ketuhanan yang diwahyukan untuk kepentingan kehidupan manusia. Sedangkan secara kultural ia berkembang dalam semangat kebebasan dan demokratisasi dengan menempatkan manusia tidak hanya sebagai objek semata, tapi juga sebagai subjek yang ikut terlibat dalam proses pembangunan yang dilaluinya.
Berkaitan dengan etika kemasyarakatan seperti itu, maka nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi pesan utama universalisme agama merupakan spirit yang dapat memberikan warna tersendiri dalam satu cita-cita menuju masyarakat “kota” yang lebih beradab. 
Dalam peta nilai dan etika sosial inilah Bandung kemudian berkembang melewati jalan-jalan sejarahnya yang sangat dinamis. Dalam dinamika sosial politik seperti dicirikan oleh watak kultural masyarakatnya, Bandung telah melewati pengalaman pemerintahannya yang penuh warna. Sejak masa kemerdekaan, bahkan jauh sejak zaman kolonialisme, lalu memasuki era-era pemerintahan berikutnya, Bandung hampir selalu menunjukan warna sosial keagamaan tersendiri.
Dengan melihat dinamika kota yang semakin kompleks baik dalam konteks pembangunan maupun pertumbuhan demografis, Bandung kini dan ke depan berada dalam berbagai tarikan yang seringkali sulit dipecahkan. Pendekatan agama hanya salah satu saja dari berbagai pendekatan yang dapat ditawarkan. Tulisan sederhana ini hanya akan melihat sisi-sisi filosofis dan pragmatis perkembangan kota Bandung.
Karakter Filosofis-Historis
Untuk melihat ciri-ciri penting masyarakat kota seperti pernah diikhtiarkan Nabi bersama para sahabatnya di Madinah, salah satunya, kita dapat melihat lebih jauh pada Konstitusi Madinah sebagai produk politik yang terumuskan melalui kesepakatan bersama antar berbagai unsur dalam masyarakat. 
Beberapa prinsip yang mendasari terwujudnya masyarakat itu antara lain: 
Pertama, mulai dikembangkannya prinsip tasamuh, yakni etika yang melandasi sikap toleran dalam kehidupan masyarakat plural. Etika ini telah mengilhami pentingnya kebersamaan dalam suasana masyarakat yang beragam. Sebab fenomena masyarakat majemuk, di manapun, kini muncul dalam nuansa pluralisme yang semakin kompleks. 
Heterogenitas agama ataupun budaya yang kini mewarnai dinamika kehidupan masyarakat modern telah mendorong secara terus menerus dikembangkannya etika pergaulan yang toleran.
Kedua, sebagai akibat dari munculnya perubahan yang berlangsung sejalan dengan proses urbanisasi (pengkotaan) masyarakat, maka terbentuklah tatanan masyarakat yang ditandai oleh pluralisme kultural. 
Berkaitan dengan hal tersebut, maka masyarakat beradab, atau dalam hal ini masyarakat madani, adalah fenomena masyarakat yang ditandai oleh adanya tingkat penghayatan yang tinggi terhadap pluralisme kultural yang menjadi kenyataan sosial yang dihadapinya. 
Mereka pada umumnya memiliki sikap yang tercerahkan, yang cenderung lebih mengedepankan pertimbangan rasional ketimbang emosional. Karena itu, jika agama merupakan tata nilai yang memberikan kebebasan kepada para pemeluknya untuk memainkan peran-peran sosial yang lebih rasional, maka agama otomatis akan menjadi salah satu identitas yang dianutnya. Sehingga agama yang menjadi salah satu identitas masyarakat beradab akan menjadi sumber inpirasi dalam mengantisipasi perubahan-perubahan yang mungkin terjadi.
Ketiga, secara sosiologis, masyarakat kota adalah masyarakat yang ditandai oleh adanya sikap dan prilaku yang kosmopolit, dan pada saat yang sama, semakin menipisnya aspek primordialisme dalam berbagai peran sosial yang dimainkannya. Ikatan-ikatan sosial yang terjadi pada masyarakat seperti ini lebih didasarkan pada hubungan-hubungan fungsional-rasional. 
Konsekuensinya, ia akan menjadi masyarakat yang lebih terbuka dan demokratis. Karena itu, jika muncul keinginan untuk melakukan demokratisasi masyarakat seperti apa yang sedang berlangsung saat ini, maka sesungguhnya yang harus dilakukan adalah upaya menumbuhkan sikap kosmopolit. Sikap inilah yang akan menjadi kekuatan pendorong terbentuknya masyarakat terbuka dan demokratis.
Tantangan Metropolitan
Pada sekitar sepuluh tahun terakhir, Bandung terasa semakin berubah. Sebagai kota jasa dengan moto Bermartabat, Bandung kini tengah memasuki proses transformasi sosial budaya yang pada gilirannya akan berdampak terhadap suasana kehidupan beragama. 
Pertumbuhan penduduk serta terus meningkatnya infrastruktur kota telah  telah membawa Bandung menjadi kota metropolitan yang semakin diminati para pendatang. Bukan hanya itu, Bandung juga dikenal sebagai kota pendidikan, terutama karena tersedianya lembaga-lembaga pendidikan tinggi yang cukup besar.
Banyaknya perguruan tinggi besar baik negeri maupun swasta merupakan faktor lain yang membuat semakin kompleksnya permasalahan Bandung. Konsekuensinya, Bandung kini semakin padat dengan keragaman budaya dan pemahaman agama yang juga sangat bervariasi. 
Proses akulturasi pun tidak dapat dihindari. Berbagai dampak sosial budaya pada gilirannya menyentuh kehidupan beragama, termasuk semakin terbukanya sikap dan pandangan keberagamaan masyarakat.
Selain itu, dibukanya tol Cipularang telah membuka pintu akses keluar-masuk yang semakin leluasa. Tersedianya sarana transportasi ini bukan tanpa masalah. Kota Bandung kini semakin mengarah menjadi kota yang bukan saja padat penduduk, meningkatnya jumlah kendaraan, berkembangnya fasilitas hotel, restoran, kafe, dan lain sebagainya, tapi juga hal-hal lain yang erat menyentuh persoalan agama dan budaya, seperti tempat hiburan, persaingan bisnis-bisnis komoditas haram (seperti pornografi, narkoba, dan lain-lain), bahkan semakin maraknya tindak kejahatan.
Harus diakui pula bahwa kehadiaran sejumlah perusahaan bermodal besar pada gilirannya telah semakin menggeser pengusaha lokal yang bermodal kecil. Kontroversi di seputar pengembangan pusat-pusat perbelanjaan modern yang dinilai telah menggeser pasar-pasar tradisional adalah satu dari sekian banyak masalah yang ditimbulkan oleh proses dimaksud. 
Persoalannya kemudian menjadi tidak sederhana, karena kenyataan tersebut pada akhirnya juga berdampak pada sikap budaya dan prilaku keberagamaan masyarakat. Kecemburuan antar kelas sosial seringkali berujung pada konflik horizontal yang berakibat pula pada nuansa agama.
Bandung juga merupakan kawasan yang menjadi ujung tombak sejumlah lembaga nasional, baik politik maupun sosial keagamaan. Hampir seluruh organisasi politik dan sosial keagamaan seperti Muhamadiyah, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, sejumlah partai politik memiliki cabang atau perwakilan di Kota Bandung. Hal ini telah memperkaya khazanah dan dinamika kota yang semakin kompleks. 
Keberagamaan masyarakat hingga saat ini masih terhitung kuat. Tidak heran jika hampir semua persoalan akan berujung pada tema agama. Suatu kebijakan politik yang bertentangan dengan keyakinan agama, misalnya, pasti akan menghadapi perlawanan dari masyarakat. Sebaliknya, kalau potensi itu dapat digunakan dengan optimal, maka ia akan sangat besar pengaruhnya bagi kesuksesan suatu program pemerintah.
Untuk memenuhi kebutuhan aktivitas keagamaan, berbagai sarana keagamaan tersedia di kota ini. Masjid-masjid, musholla-musholla, serta sarana keagamaan lainnya merupakan bagian penting dari komunitas Muslim Kota Bandung. Lebih dari lima ribu buah masjid tersebar hampir di setiap RW di kota ini. 
Demikian pula tokoh dan pemuka agamanya. Kyai, Da’i, Mubaligh, Cendekiawan, ada hampir disetiap kelurahan. Ketersediaan sumber daya manusia ini merupakan potensi yang dapat dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan atau juga sebaliknya. Sinergitas fungsional antara pemerintah kota dengan Majelis Ulama dan ormas-ormas Islam lainnya telah terjalin dengan baik, khususnya melalui kebijakan strategis pemerintah kota dalam bidang pembinaan umat beragama.*

 — KH. Miftah Faridl, Ketua MUI Kota Bandung.
Share Button
(Visited 50 times, 1 visits today)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *