Home   Opini   Dakwah Bil Qolam, Dakwah dengan Pena (Tulisan)

Dakwah Bil Qolam, Dakwah dengan Pena (Tulisan)
jurnalistik dakwah bil qolam
“Nun, perhatikanlah Al-Qalam dan apa yang dituliskannya” (Q.S. Al-Qolam:1)

ISTILAH “Da’wah Bil Qolam” (DBQ) mungkin masih terasa asing di telinga banyak orang, tidak seperti istilah “Da’wah Bil Lisan” dan “Da’wah Bil Hal”. Penggunaan nama “Qolam” merujuk kepada firman Allah SWT, “Nun, perhatikanlah Al-Qalam dan apa yang dituliskannya” (Q.S. Al-Qolam:1). Maka, jadilah DBQ sebagai konsep “dakwah melalui pena”, yaitu dengan membuat tulisan di media massa.

Karena menyangkut tulisan, DBQ bisa diidentikkan dengan istilah “Da’wah Bil Kitabah” (dakwah melalui tulisan). Saya memilih DBQ karena istilah “Qolam” (pena) kesannya lebih agresif ketimbang “Kitabah” (tulisan). Pena menunjukkan subjek, senjata, atau alat. Tulisan adalah objek, hasil, atau produk goresan pena.

Istilah DBQ adalah “temuan baru” yang saya kira tidak pernah muncul sebelumnya. Pertama kali saya menggunakan istilah tersebut adalah ketika menggelar pelatihan jurnalistik Islami pada Ramadhan 1420 H lalu, sebagai program pertama Laboratorium Jurnalistik Hikmah ELJEHA (Mingguan Hikmah Bandung, 1993-2000) yang saya pimpin. Pelatihan tersebut saya beri nama “Training Da’wah Bil Qolam”. Konsentrasi pelatihan adalah penulisan artikel Islam (artikel dakwah).

Pada era informasi sekarang ini yang ditandai dengan maraknya media massa sebagai sarana komunikasi massa dan alat pembentuk opini publik, para mubalig, aktivis dakwah, dan umat Islam pada umumnya –yang memang terkena kewajiban secara syar’i melakukan dakwah — harus mampu memanfaatkan media massa untuk melakukan DBQ, melalui rubrik kolom opini yang umumnya terdapat di suratkabar harian, mingguan, tabloid, majalah-majalah, atau buletin-buletin internal masjid. Tentu saja, DBQ berjalan seiring dengan pelaksanaan dakwah format lama: da’wah bil lisan(ceramah, tablig, khotbah) dan da’wah bil hal (pemberdayaan masyarakat secara nyata, keteladanan perilaku).

Melalui tulisan-tulisan di media massa, seorang mubalig, ulama, kyai, atau umat Islam pada umumnya –sesuai dengan bidang keahlian atau keilmuan yang dikuasainya– dapat melaksanakan DBQ. Dengan demikian, mereka atau kita pun dapat melaksanakan peran sebagai jurnalis Muslim, yakni sebagai muaddib (pendidik), musaddid (pelurus informasi tentang ajaran dan umat Islam), mujaddid (pembaharu pemahaman tentang Islam), muwahid (pemersatu atau perekat ukhuwah Islamiyah), dan mujahid(pejuang, pembela, dan penegak agama dan umat Islam).

Keunggulan DBQ dibandingkan format dakwah bentuk lain adalah sifat objeknya yang massif dan cakupannya yang luas. Pesan DBQ dapat diterima oleh ratusan, ribuan, ratusan ribu, bahkan jutaan orang pembaca dalam waktu yang hampir bersamaan.

DBQ juga merupakan senjata kita dalam melawan serbuan pemikiran (Al-Ghazwul Fikr) pihak-pihak yang hendak merusak akidah, pemikiran, dan perilaku Islami umat Islam melalui media massa. Media massa memang alat efektif untuk membentuk opini publik/umum (public opinion), bahkan mempengaruhi orang secara kuat dan massif.
Terabaikan
Dewasa ini, kita merasakan masih langkanya para aktivis DBQ. Lebih langka lagi adalah para “ahli Islam” (ulama, cendekiawan, mubalig) yang mampu melakukan da’wah bil lisan (ceramah, tabligh, khotbah) sekaligus piawai menulis artikel keislaman untuk media massa (DBQ). Banyak ulama dan cendekiawan hanya “jago pidato” di atas mimbar, namun tidak mampu (tidak mau?) menulis di media massa.
Pentingnya menerbitan media massa Islam sebagai sarana DBQ pun kurang mendapat perhatian secara sungguh-sungguh dari kalangan umat Islam. Padahal, wahyu pertama tentang perintah membaca (Iqra’) dan adanya Surat Al-Qolam dalam Al-Quran, mengisyaratkan betapa pentingnya arti dan fungsi tulisan dan bacaan bagi umat Islam.
“Tulisan adalah tamannya para ulama,” kata Ali bin Abi Thalib. Lewat tulisan-tulisanlah para ulama “mengabadikan” dan menyebarluaskan pandangan-pandangan keislamannya. DBQ yang telah dilakukan para ulama salaf atau cendekiawan Muslim terdahulu, telah melahirkan sejumlah “Kitab Kuning” (buku teks [text book] para santri di pesantren-pesantren). Mungkin, jika tidak dituangkan dalam tulisan, pendapat para ulama dan mujtahid sulit dipelajari dan diketahui dewasa ini.
Kemampuan menulis (DBQ) menjadikan seorang Imam Al-Ghazali dapat mewariskan ilmunya lewat Ihya ‘Ulumuddin dan sebagainya. Demikian pula sejumlah ulama lain. Hasan Al-Banna, Abul A’la Al-Maududi, dan Dr. Yusuf Al-Qaradhawi menggelorakan semangat pembaharuan dan kebangkitan Islam lewat artikel dan buku-buku mereka. Pembaharu Islam Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh menerbitkan majalah Al-’Urwatul Wutsqa di Prancis. Melalui tulisan-tulisannya di majalah tersebut, mereka mencanangkan da’wah Islam di tengah peradaban dunia Barat.
Demikian pula para ulama, sarjana, filsuf, dan cendekiawan Muslim lain dari berbagai disiplin ilmu. Benar juga kata Plato: “Pikiran manusia terekam di ujung pena mereka”.
DBQ bahkan sudah dicontohkan langsung oleh Rasulullah Saw. Surat ajakan masuk Islam kepada Kaisar Persia, umpamanya, merupakan bukti DBQ. Karena dakwah tertulis dicontohkan langsung oleh Rasulullah, maka ia menjadi “sunnah”.
Lebih dari itu, pembukuan Al-Quran yang kini kita kenal dengan mushaf dalam perspektif jurnalistik, Al-Quran adalah karya jurnalistik juga, yakni sebuah media massa format buku yang isinya firman-firman Allah SWT. Dari akar kata shuhuf, sebutan bagi kumpulan wahyu, dikembangkan kata shahifah yang berarti suratkabar atau koran dan shahafi yang searti dengan wartawan atau jurnalis (Ali Yafie dalam Rusjdi Hamka & Rafiq, 1989:285). Demikian pula, termasuk karya jurnalistik adalah kitab-kitab kumpulan hadits semacam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. 
Pengaruh Tulisan
Sebuah tulisan atau karya tulis dapat berpengaruh sangat luas dan membuat penulisnya sangat populer. Salman Rushdie begitu mendunia namanya karena tulisannya, buku Satanic Verses(Ayat-Ayat Setan), yang dianggap melecehkan Islam. Pemerintah Iran bahkan memvonis hukuman mati baginya.
Tulisan atau goresan pena seorang penulis dapat menjadi pelopor suatu pemikiran, keyakinan, ide, cita-cita, bahkan revolusi (KHM Isa Anshary, 1984:33-41). Revolusi Prancis bergerak di bawah cahaya pikiran dan cetusan pandangan yang dirintis J.J. Rousseau dan Montesquieu. Revolusi Amerika dibimbing “Declaration of Independent” (Fatwa  Kemerdekaan) yang hingga kini dijadikan pedoman besar bangsa Amerika.
Revolusi Rusia dan perjuangan kaum Komunis di seluruh dunia sampai kini dipimpin oleh Manifesto Kumunis (Communistish Manifest) karya Kalr Marx dan Engels. Nazi Jerman bergerak di bawah petunjuk buku Mein Kamf karya Adolf Hitler. Revolusi Tiongkok berpedoman pada San Min Chu I karangan Sun Yat Sen.
Revolusi Indonesia didahului pemikiran-pemikiran revolusioner tertulis dari Bung Karno, Bung Hatta, M. Natsir, Syahrir, dan Tan Malaka. Kebangkitan dunia Islam, gerakan reformasi dan modernisasi dalam dunia Islam, terutama bersumber pada buah pena atau tulisan Ibnu Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Syaikh Rasyid Ridha, Amir Syakib Arsalan, dan Abdurrahman Al-Kawakiby. Pembinaan negara Islam Pakistan didahului buku-buku Mohammad Iqbal.
Tulisan atau pena seorang penulis cukup berbicara satu kali, melekat terus dalam hati dan menjadi buah tutur setiap hari. Para jududa’wah pelu lebih memperhatikan kepentingan tulisan di berbagai media da’wah, menjadikan media massa sebagai alat perjuangan da’wah.
Tulisan dan bacaan adalah media da’wah yang tidak kurang vitalnya dari angkatan mujahidin dan mubalighin yang bergerak setiap masa ke segala pelosok dunia; membuka hati masyarakat, merebut masyarakat dari genggaman dan belenggu paham dan aliran luar Islam. Masyarakat Islam dalam segala tingkatan, keluarga dan rumah tangga kaum Muslimin, harus kita masuki dengan bacaan-bacaan Islam, mengembalikan mereka kepada kehidupan Islam. 
(Dikutip dari buku Jurnalistik Dakwah: Visi Misi Dakwah Bil Qolam, penerbit Rosdakarya Bandung, karya Asep Syamsul M. Romli, dosen luar biasa Komunikasi UIN SGD Bandung).*
Share Button
(Visited 403 times, 1 visits today)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *