Home   Opini   Dosen, Mahasiswa, dan Blog

Dosen, Mahasiswa, dan Blog
blog

Oleh ASM. Romli 

Banyak (atau kebanyakan?) dosen tidak punya blog. Alasannya “sederhana”: tidak sempat! Kalaupun sudah punya, jarang update. Alasannya juga “sederhana”: tidak sempat!

Wow! Sibuk sekali bapak dan ibu dosen ini. Mungkin terlalu sibuk mendalami bahan ajar atau materi kuliah yang akan disampaikannya di kelas.

Banyak (atau kebanyakan?) mahasiswa juga tidak punya blog. Alasannya “sederhana”: tidak punya laptop! Kalaupun sudah punya, jarang update. Alasannya juga “sederhana”: tidak punya laptop!

Wow! Serba tidak punya mahasiswa kita ini. Oh, mungkin alokasi dananya habis untuk bayar SPP, bayar kos, keperluan sehari-hari, dan beli buku.

Blog memang bukan segalanya, tapi segalanya bisa terjadi dengan blog. Bapak dan ibu dosen bisa berbagi (share) ilmu dengan publik lewat blognya. Mereka juga bisa memberikan tugas, materi kuliah, dan “unjuk kemampuan menulis” (baca: memberi teladan budaya menulis) kepada para mahasiswanya.

Haruskah dosen punya blog?

Tidak ada ketentuan perundang-undangan yang mengharuskan dosen punya blog. Blogging tidak masuk dalam syarat menjadi dosen atau syarat sertifikasi dosen. Jadi, mengapa harus punya blog?

Ya, sudah, kalau memang dosen tidak harus punya blog, maka mari kita abaikan fakta berikut ini:

  1. Blog memudahkan pemberian tugas dan materi kuliah.
  2. Blogging = Menulis. Dosen ngeblog memberi teladan sekaligus membangun budaya menulis.
  3. Blog dosen bisa menunjukkan kompetensi bidang keilmuannya kepada mahasiswa dan publik.
  4. Blog membuka ruang ruang komunikasi interaktif sehingga komunikasi dosen-mahasiswa tidak hanya terjadi di kelas.
  5. Lanjutan nomor 5, blog pun otomatis meningkatkan waktu “tatap muka” dosen dan mahasiswa, apalagi bagi dosen yang “jarang masuk”. 
  6. Blog menjadi “personal branding” yang bisa turut mengangkat citra atau nama baik kampusnya.

Sekali lagi, kalau memang bapak dan ibu dosen “tidak punya waktu” untuk nge-blog, mari kita abaikan manfaat, faidah, dan fadilah blog tersebut. Toh tidak melanggar aturan. Toh tidak termasuk syarat jadi dosen dan tidak masuk syarat sertifikasi dosen. Lebih penting lagi, toh tidak mengganggu stabilitas nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Merdeka!

Haruskah mahasiswa punya blog?

Tidak punya blog bukan syarat jadi mahasiswa, jadi buat apa blog? Toh kuliah tetap berjalan tanpa blog. Kecuali, sekali lagi, kecuali jika dosen mengharuskan tugas kuliah dimuat di blog masing-masing. Mau tiak mau, suka tidak suka, sempat tidak sempat, mahasiswa terpaksa nge-blog. Minimal sekali itu saja, publish tugas yang diberikan.

Satu kecuali lagi! Untuk mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Jurnalistik Online, wajib hukumnya punya blog. Jika tidak, tidak lulus! Ini keputusan yang tidak bisa diganggu-gugat. Saya tidak usah memberi alasan atau argumentasi, mengapa mahasiswa kelas Jurnalistik Online harus punya blog.

Jika mahasiswa merasa tidak perlu nge-blog, mari kita abaikan data berikut ini:

  1. Blog melatih keterampilan menulis (writing skill), sebuah keterampilan yang wajib dimiliki wartawan dan praktisi humas.
  2. Blog merangsang kreativitas berpikir, kemampuan riset, dan membuka ruang diskusi dengan sesama mahasiswa di seluruh dunia.
  3. Blog bisa menjadi “gudang” penyimpanan ilmu yang didapatkan di kelas.
  4. Blog bisa menjadi “personal branding” dan “soft marketing” sehingga “mudah cari kerja”.
  5. Blog means business! Blog masa kini juga berarti bisnis, usaha berbasis internet, sehingga membuka peluang wirausaha online.
  6. Blog membangun jaringan dan pertemanan (networking and friendship) sehingga bisa “mencerahkan masa depan”. Ingat, kunci sukses “bertahan hidup” di era sekarang, selain skill adalah jaringan dan pertemanan!

Tentu masih banyak faidah blog lainnya bagi mahasiswa. Tapi, sudahlah, kalau memang mahasiswa merasa tidak perlu nge-blog, abaikan saja fadhilah blogging tersebut. Toh tidak mengganggu stabilitas nasional dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Merdeka! Wasalam.

— ASM. Romli, Dosen Luar Biasa alias Hononer Jurusan Komunikasi UIN SGD Bandung. Penulis buku “Jurnalistik Online”, Penerbit Nuansa Cendikia, Bandung, 2012. Blog: www.romeltea.com.

Share Button
(Visited 213 times, 1 visits today)

Related Post

7 Comments so far:

  1. tramusi says:

    Setuju blog setidaknya bisa ajang sharing materi kuliah sesama mahasiswa, bahkan lebih jauh bisa menjadi alternatif materi mahasiswa diluar kampus tsb. untuk memperdalam penguasaan materi. Yang belum paham akan paham, sementara yang sudah paham bisa menjadi tambah paham lewat media blog. Salam.

  2. afifah says:

    assalamualaikum,
    terus gimana supaya blog bisa diperingkat atas daftar pencarian google

  3. amira aisya says:

    setuju, mulai dengan blog, di kampus saya sekarang (di Australia), sistem e-learning nya bagus sekali, bisa diskusi virtual, mengerjakan ujian online, perkuliahan online, publish bahan kuliah, video, bahkan sekarang kebijakannya mengumpulkan tugas melalui situs e-learning ini juga, sekalian menghemat kertas dan mengecek plagiarism. di negara maju plagiarism memang menjadi isu yg sangat besar,ada 3 kata yang sama dengan sumber online (apapun itu, artikel bebas/jurnal) langsung ketahuan, plus ketahuan sumbernya darimana.
    ternyata, kampus tempat saya mengajar di jatim pun sudah sejak lama menerapkan e-learning untuk membantu kelancaran belajar mengajar, feature hampir sama, hanya saja tidak ada software untuk mengecek plagiarism.
    bagi kampus yang belum mempunyai fasilitas e-learning terpadu seperti itu,blog bisa menjadi alternatif…tapi balik lagi..tergantung kemauan personal, dan kemampuan juga tentunya. baik di kampus saya di jatim, ataupun di Australia ini, ada saja dosen yang belum/tidak menggunakan e-learning tsb

  4. dengan blog.

    INDONESIA MENJADI TERKENAL.

  5. Kemana tanggapan dari mahasiswa dan dosen lain? Mungkin lagi sibuk ya?

    Saya setuju dengan Bapak. Dosen sebaiknya rajin nge-blog.

    Negeri kita ini rajin memasang standar tinggi, seperti Publikasi Jurnal Ilmiah. Padahal ngisi ujian saja nyontek, nyari tulisan dosen saja susah, buku ajar dosen juga punya orang lain. Wuiiih, mana bisa percaya ada jurnal ilmiah asli buatan sendiri, skripsi saja banyak isu beli tuh???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *