Home   Berita   ICT, Upaya UIN Bandung Minimalisir Plagiarism

ICT, Upaya UIN Bandung Minimalisir Plagiarism

Program pelatihan Information and Communication Technologies (ICT) kembali diadakan untuk kedua kalinya di tahun 2018. Kegiatan yang juga dilaksanakan pada April-Mei lalu ini berlangsung kondusif dan mendapat respon yang baik dari mahasiswa, terbukti dengan meningkatnya jumlah peserta. Inovasi ICT di tahun ini adalah untuk mengejar originalitas hasil karya tulis mahasiswa UIN Bandung. Kegiatan pelatihan ini berlangsung selama 6 hari, terhitung pada 15-20 Oktober 2018 di gedung Lecture Hall, UIN Bandung, Senin, (15/10/2018).

Pihak PTPID bersepakat dengan Wakil Rektor (Warek) 1 dan Semua Wakil Dekan (Wadek) 1 di lingkup kerja UIN, bahwa ICT dijadikan sebagai bahan ajar, sekaligus mengecilkan tingkat plagiasi yang ada di UIN Bandung. “Saya tidak menyalahkan seseorang melakukan plagiasi, karena ada faktor mengapa dia melakukan plagiasi, karena ada faktor tidak tahu atau tidak mengerti,” ungkap Yogi. Dengan ini, ICT terus melakukan inovasi di setiap pelaksanaannya. Inovasi di angkatan 2016 adalah mengejar hasil karya tulis ilmiah yang original dari mahasiswa.

Dimulai pada tahun 2017, pelatihan ICT diperuntukkan bagi angkatan 2014 dengan jumlah peserta 4.580, pada angkatan 2015, dihadiri oleh 4.668 peserta dan pada angkatan 2016 mengalami peningkatan menjadi 5.472 peserta. Selain diwajibkan oleh SK Rektor, pelatihan ini merupakan hak yang perlu diperoleh mahasiswa karena telah tertuang dalam UKT. “Dari UKT yang dibayarkan oleh mahasiswa dengan dana yang berbeda-beda, disana ada anggaran untuk pelatihan ICT, bukan pelatihan ICT saja tetapi ada juga bahasa, tahfidz dan lainnya, dan itu sifatnya satu paket,” tutur Ketua Divisi Training ICT, Yogi Saputra Assyahab.

Mahasiswa semester 5, Pendidikan Bahasa Inggris, Atika Suri, menuturkan bahwa pelatihan ICT di hari pertama diawali dengan pembukaan dan pengenalan tentang silabus awal, etika menulis secara akademik, artikel, juga membuat blog. Dalam pelatihan ICT sendiri, seorang mahasiswa juga diharuskan mengikuti 3 kali pertemuan dari total 6 pertemuan untuk bisa mengikuti ujian.

Menjawab keluhan mahasiswa di tahun lalu perihal ujian ICT yang tidak sesuai dengan materi yang telah dipelajari, Yogi menjelaskan bahwa konsep mahasiswa saat ini tidaklah sama dengan anak SD. “Kita membuat tim pembuat soal dan kita mengembangkan soal yang disajikan di ujian memang bersumber dari modul, tetapi dari beberapa soal tersebut, ketika kita hanya terfokus pada buku dan tidak kita kembangkan, itu akan terlalu monoton.” Paparnya.  Ia berharap bahwa peserta saat itu dapat lebih kreatif dan menggali lebih jauh tentang materi yang diajarkan.

Di tahun 2020, Yogi menambahkan bahwa ICT akan diberlakukan pada mahasiswa semester 1. “Sekarang pun kita lagi kejar, setahun tuh 2 kali, jadi nanti saat mahasiswa baru masuk, langsung diajarkan, supaya nanti mengerjarkan tugas tidak hanya copy paste saja, control A, control C, control V, ganti nama, ganti logo UIN,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa targetnya sekarang adalah memperbaiki sistem yang ada dengan memberikan edukasi bahwa pengetahuan tentang plagiasi itu penting, terlebih sekarang terdapat UU Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) tahun 2002 yang berisi “Untuk pelanggar yang melakukan plagiasi, hukuman pidana 2 tahun atau denda paling banyak 200 juta,” pungkasnya.

 

Reporter: Putri Restia Ariani/Jurnalpos

Share Button
(Visited 18 times, 1 visits today)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *