Home   Makalah   Islam-Sunda: Sebuah Fenomena Alternatif

Islam-Sunda: Sebuah Fenomena Alternatif
enjang as

Oleh Enjang AS


Literatur mutakhir sering mengungkapkan perasaan mengenai kehampaan makna hidup, absurditas, kesia-siaan hidup yang seakan tanpa tujuan. Barangkali, hal ini dapat disebut sebagai kehampaan spiritualitas, baik pada individu maupun masyarakat. Keadaan ini tentu saja menjadi tantangan bagi para agamawan, baik di Indonesia maupun umat beragama di pelbagai negeri yang mendambakan kehidupan kemanusiaan yang memiliki nilai-nilai religius. 

Nilai religius tentu saja tidak berkembang pada ruang yang hampa, tetapi senantiasa diolah dan bersinggungan dengan berbagai dimensi lain dalam kebudayaan dan kemasyarakatan. Terdapat begitu banyak pengungkapan budaya, ekspresi seni, ciptaan keilmuan, bentuk dan corak kehidupan masyarakat yang masih mengacu pada nilai-nilai religius tersebut.

Namun demikian, dengan pendekatan ini berbagai pertanyaan metodologis dapat muncul. Kalau agama “ada” karena ia mempunyai fungsi, bagaimana jika muncul pranata yang lain untuk mengisi fungsi tersebut? Bagaimana jika pengetahuan telah bertambah dan akal telah semakin sanggup menjawab pertanyaan yang selama ini hanya bisa dijawab dengan agama? Dalam kondisi semacam ini, bagaimana peran agama? Beragam pertanyaan semacam ini akan muncul untuk menanggapi kondisi agama yang –secara fungsional– bertindak sebagai sesuatu yang memiliki fungsi dalam kehidupan manusia.

Menanggapi hal ini, Taufik Abdullah (1996: xvi-xvii), memberikan uraian yang melengkapi pernyataan di atas bahwa:
… agama adalah unsur yang membentuk self, diri, atau landasan identitas diri. Dalam pemahaman ini agama adalah sebuah jalinan makna, yang membentuk kedirian orang yang meyakininya. Dalam pandangan ini, kebenaran atau realitas bukanlah sesuatu yang ada di sana, obyektif, tetapi merupakan sebuah jalinan makna yang membentuk kedirian, dengan “kedirian” yang lain. Jadi, realitas itu sesungguhnya merupakan sebuah konstruksi sosial dari sebuah komunitas kognitif, yaitu komunitas yang diikat oleh kesamaan pada konsep kepercayaan yang hakiki.

Berdasarkan pada berbagai uraian di atas, dipahami bahwa sebagai sebuah realitas sosial, agama muncul dalam berbagai bentuk setelah ia bersinggungan dengan berbagai jenis kebudayaan lokal yang dihadapi oleh agama tersebut. Dalam pergulatan antara agama dan kebudayaan inilah sering muncul berbagai bentuk pengamalan agama yang berdimensi budaya setelah mengalami proses sinkretisme yang panjang.

Kedua dimensi ini –agama dan kebudayaan– lama kelamaan tidak dapat dipisahkan. Hal ini disebabkan oleh kehadiran agama yang –boleh jadi– lebih lambat ketimbang sistem tradisi yang telah menjadi kebudayaan sebuah masyarakat. Ketika agama menawarkan fungsinya sebagai pengimbang norma-norma kehidupan manusia –baik sebagai individu maupun masyarakat– banyak telah dimiliki oleh suatu sistem kebudayaan yang kemudian keduanya dianggap sebagai dua hal yang tidak terpisahkan.

Fenomena keberlakukan dua pranata sosial yang kemudian menjadi bersatu ini muncul dalam masyarakat seperti di Kampung Naga. Sebagai salah satu komunitas masyarakat Sunda, Kampung Naga dapat dipandang sebagai salah satu akar kebudayaan Sunda dan hal ini ditandai dengan cara hidupnya yang masih sangat sederhana dan tradisional.

Masyarakat Kampung Naga memiliki tata nilai sebagai konsep mengenai masalah dasar yang sangat penting dan berguna bagi kehidupan mereka, yang bersumber pada warisan leluhurnya. Tata nilai ini tercermin dalam ucapan-ucapan normatif (pikukuh) yang berupa hapalan dan tercermin dalam kelakuan (perilaku). Menurut Krech et al. (1982: 342) bahwa tata nilai semacam ini dikategorikan sebagai kebudayaan implisit yang mengendalikan perilaku empirik. Jadi, perilaku empirik merupakan cerminan dari kebudayaan implisit tersebut. Hal ini juga dijelaskan oleh Gunardi (dalam Jahi, 1988: 103-108) bahwa kebudayaan implisit yang dideskripsikan dalam bahasa lisan yang mereka miliki memuat tentang kepercayaan agama, sistem moral dan etika, sistem pengetahuan mengenai tempat dan sistem kepercayaan kepada roh leluhur.

Berikut ini salah satu contoh pikukuh:
…éling-éling mangka éling rumingkang di bumi alam
Darma wawayangan baé raga taya pangawasa
Lamun kasasar lampah nafsu nu matak kaduhung
Badan anu katempuhan.
(Hendaknya selalu ingat bahwa hidup di muka bumi
Bagaikan wayang, badan tidak memiliki kekuatan
Jika perilaku tersesat, nafsu menyebabkan penyesalan
Dan badan yang akan menerima akibatnya).

Bait pikukuh di atas menyampaikan beberapa pesan moral dan norma sekaligus. Pertama, ia menyampaikan pesan agar manusia selalu mengingat kekuatan Tuhan atas manusia dan alam ini. Kedua, adanya keyakinan bahwa pada hakikatnya manusia tidak memiliki kekuatan apapun. Ketiga, adanya pemahaman bahwa yang selalu membawa penyesalan dalam kehidupan manusia ialah nafsu manusia itu sendiri dan oleh karenanya manusia tidak diperkenankan untuk memperturutkan hawa nafsu.

Dari salah satu bait pikukuh yang di atas, telah jelas bahwa sistem kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat Kampung Naga telah matang, baik dari segi kepercayaan agama, tata nilai kemasyarakatan, dan sebagainya. Hal ini diperkuat dengan datangnya Islam yang juga berfungsi sebagai sistem dan tata nilai. Kedua sistem ini kemudian berjalan beriringan dalam menjalankan fungsinya.

Masyarakat Kampung Naga melihat Islam sebagai sebuah tata aturan bagi manusia dalam menjalankan kehidupannya agar lebih baik, sebagaimana tata aturan yang mereka miliki sebelumnya. Oleh karena itu, ketika Islam datang di lingkungan mereka tidak banyak dipermasalahkan. Terlebih karakter Islam ini hampir mendekati kebudayaan mereka.
B. Agama dalam Kajian Sosiologis
Dalam hal fungsi agama sebagai integrator dan penggerak perubahan sosial, Bahtiar Effendy (2001: 7) memberikan penjelasan bahwa baik secara teologis maupun sosiologis, agama dapat dipandang sebagai instrumen untuk memahami dunia dan dalam konteks itu tidak ada kesulitan bagi agama apa pun untuk menerima premis tersebut. 

Hal ini, secara teologis –terlebih dalam agama Islam— banyak disebabkan oleh karakter agama yang omni-present yakni bahwa agama baik melalui simbol-simbol atau nilai-nilai yang dikandungnya “selalu hadir di mana-mana”, ikut serta mempengaruhi bahkan membentuk struktur sosial, budaya, ekonomi, politik, serta kebijakan publik. Dengan ciri ini pula bahwa di mana pun suatu agama berada diharapkan dapat memberi panduan nilai bagi seluruh diskursus kegiatan manusia baik yang bersifat sosial-budaya, ekonomi maupun politik. Sementara itu secara sosiologis, tidak jarang agama menjadi faktor penentu dalam proses transformasi dan modernisasi.

Meskipun demikian, masih menurut Bahtiar Effendy (2001: 7-8) bahwa penting pula untuk diingat bahwa kehadiran agama selalui disertai dengan dua muka (janus faced). Pada satu sisi, secara inheren agama memiliki identitas yang bersifat exclusive, particularist, dan primordial. Akan tetapi, pada waktu yang sama pula agama kaya akan identitas yang bersifat inclusive, universalist dan transcending.

Memperkuat hal ini, Leonard Swidler sebagaimana dikutip oleh Th. Sumartana (1996: 28) memiliki definisi agama sebagai berikut: “Religion is an explanation of the ultimate meaning of life, based on the notion of the transcendent, and how to live accordingly; and it normally contains the four “c’s”: creed, code, cult, community structure”.

Menurut Swidler, sebagai tujuan hidup setiap manusia, agama adalah suatu rangkaian tak terpisahkan antara kredo (keyakinan), kode (tata aturan), penyembahan (pengabdian) dan struktur komunitas yang keempat unsur tadi saling berkaitan.

Pemikiran Swidler di atas mengungkapkan pengertian agama yang langsung berhubungan dengan fungsi agama bagi manusia yakni merupakan keyakinan manusia, tata aturan bagi manusia, sistem dan praktek penyembahan dan pemujaan yang dilakukan manusia yang pada akhirnya bertujuan untuk membentuk sebuah struktur komunitas yang teratur sesuai dengan ajaran agama tersebut.

Sebagaimana fenomena yang ditimbulkannya yang seringkali berbentuk empiris (mewujud), agama dalam sosiologi kerap dipandang sebagai fakta sosial. Mengenai fakta sosial ini, Durkheim memberikan tiga karakteristik yang berbeda. Pertama, gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu. Sesudah memberikan beberapa contoh mengenai fakta sosial, Durkheim menegaskan bahwa, “…maka ia merupakan cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang memperlihatkan sifat patut dilihat sebagai sesuatu yang berada di luar kesadaran individu” (Johnson, 1994: 177).

Oleh karena itu, dengan berdasarkan pada pandangan Durkheim di atas dapat dipahami bahwa salah satu karakteristik fakta sosial ialah sifatnya yang berada di luar individu, suatu ikatan yang berbentuk norma, nilai dan sebagainya sehingga akan menyebabkan seseorang untuk bertindak sesuai dengan norma-norma umum yang berlaku. Dalam hal ini seorang individu tidak lagi memiliki kebebasannya sebagai individu karena itu juga terhalangi oleh kebebasan individu yang lainnya.

Kedua, fakta memaksa individu. Menurutnya, individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh pelbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya. Ia mengungkapkan bahwa, “tipe-tipe perilaku atau berpikir ini mempunyai kekuatan memaksa yang karenanya mereka memaksa individu-individu terlepas dari kemauan individu itu sendiri” (Johnson, 1994: 177).

Karakteristik yang kedua di atas memberikan pemahaman bahwa norma-norma aturan yang telah menjadi fakta sosial akan selalu mengarahkan manusia atau bahkan memaksa manusia sebagai individu untuk bertindak sesuai dengan norma tersebut, ia tidak lagi dapat hidup semaunya. Ia akan memiliki tanggung jawab tertentu pada kekuatan ini.

Ketiga, fakta bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat. Dengan kata lain, fakta sosial itu milik bersama; bukan sifat individual. Sifat umumn ini bukan sekedar hasil penjumlahan beberapa fakta individu. Fakta sosial benar-benar bersifat kolektif dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya ini (Johnson, 1994: 177-178). Dalam hal ini Durkheim bertahan pada pendiriannya bahwa fakta sosial itu tidak dapat direduksi ke fakta individual, melainkan memiliki eksistensi yang independen pada tingkat sosial.

Berdasarkan beberapa karakteristik di atas, tampaknya dapat diperoleh penjelasan mengenai posisi agama dalam sosiologi, yakni ia dipandang sebagai sebuah fakta sosial yang memiliki kekuatan tertentu untuk mempengaruhi dan memaksa seseorang atau individu dalam masyarakat yang kelak akan menjadi suatu aktivitas bersama. Nilai-nilai atau norma-norma dalam agama itu menjadi aturan-aturan yang disepakati secara bersama. Dengan adanya fakta sosial –dalam bentuk agama atau kepercayaan ini– otomatis akan membatasi ruang gerak manusia secara individual. Ia akan terikat dengan seperangkat norma dan nilai yang disepakatinya itu.

Oleh karena itu, agama sebagai fakta sosial dapat dinyatakan sebagai sesuatu yang berbeda dengan ide, sesuatu yang menjadi objek penelitian seluruh ilmu pengetahuan. Untuk memahaminya diperlukan penyusunan data riil di luar pemikiran manusia melainkan apa yang tampak secara empirik. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa pada waktu yang bersamaan, agama dapat dipandang sebagai something in here (sesuatu yang ada di sini) dan something out there (sesuatu yang ada di luar sana).

Dalam pemahaman agama sebagai sesuatu yang ada di sini (something in here) dapat dipahami bahwa agama mewujud dalam kehidupan setiap sendi kehidupan individu dan masyarakat secara umum. Artinya, dalam kerangka ini agama telah berinteraksi dengan berbagai sistem nilai lain yang ada dalam kebudayaan manusia yang lain yang –pada akhirnya– mau tidak mau agama berupaya untuk menyesuaikan diri dengan kondisi sosio-kultural sebuah masyarakat tertentu karena nilai religius tentunya tidak saja berkembang dalam ruang hampa, tetapi senantiasa diolah dalam kehidupan kebudayaan dan kemasyarakatan (Mahasin [ed.], 1996: ix).

Dalam hal ini, Hajriyanto Y. Tohari memberikan gambaran mengenai bagai-mana agama berinteraksi dengan kebudayaan lokal. Hal ini disebabkan bahwa watak agama itu yang tidak diturunkan dalam ruang yang hampa (empty space) melainkan dalam kondisi kebudayaan yang telah cukup matang. Agama Islam dengan Arab misalnya, pengaruh kebudayaan Arab terhadap Islam –demikian juga sebaliknya– adalah sangat besar. Banyak sekali tradisi Arab praIslam yang kemudian diambil atau dibiarkan hidup dalam Islam setelah dibersihkan dari unsur-unsur kemusyrikan. Ibadah haji misalnya, telah ada sejak praIslam, sebelum syari’at haji diberlakukan. Orang-orang kafir Quraisy dan kabilah-kabilah Arab lainnya memiliki tradisi ritual haji semacam sa’i, thawwaf dan yang lainnya. Oleh Islam, kemudian hal ini diambil dan dijadikan sebagai ibadah dalam Islam setelah dibersihkan dan dikembalikannya (Tohari, 1999: 3).

Sedangkan dalam kerangka pemahaman yang kedua, agama dapat dilihat sebagai something out there (sesuatu di luar sana) sebagai idealitas murni yang bernuansa normatif dan sarat dengan nilai yang mengatur kehidupan manusia dalam setiap segi. Agama dipandang sebagai suatu gagasan yang genuine yang tak terbantahkan.

Perbedaan kerangka pemahaman di atas tidaklah bertentangan mengingat interaksi yang terjadi dalam sebuah masyarakat pun pada akhirnya membutuhkan sistem nilai yang mengatur mereka secara menyeluruh. Namun demikian, dalam kerangka agama sebagai fakta sosial mengarah pada pemahaman bahwa agama adalah sebagai something in here, apa yang terlihat secara empirik dan dapat diuji secara ilmiah. Hal ini disebabkan salah satunya oleh beragamnya pemahaman manusia terhadap agama itu sendiri.

Talcott Parsons memiliki pandangan mengenai agama sebagai berikut:
A religion we will define as a sets of beliefs, practices, and institutions which men have evolved in various societies, so far as they can be understood, as response to those aspects of their life and situation which are believed not in the empirical-instrumental sense to be rationally understandable and/or controllable, and to which they attach a significance which includes some kind of reference to the relevant actions and events to man’s conception of the existence of a “supernatural” order which is conceived and felt to have a fundamental bearing on man’s position in the universe and the values which give meaning to his fate as an individual and his relations to his fellows (dalam McGreely, 1972: 6).

Talcott Parsons memandang agama sebagai serangkaian kepercayaan, praktik-praktik dan institusi yang muncul dalam masyarakat yang beragam. Agama bukanlah sesuatu yang bersifat empirik dari segi ideologi dan sulit untuk didekati secara rasional, namun demikian agama diyakini sebagai sesuatu yang memiliki kekuatan supernatural yang muncul dalam setiap hati manusia yang meyakininya.
Oleh karena itu, dalam hal ini Joachim Wach memandang bahwa agama dapat diperhatikan melalui tiga dimensi yakni: secara teoretis, agama ialah sistem kepercayaan; secara praktis, agama ialah sesuatu yang berupa sistem kaidah yang mengikat penganutnya; dan secara sosiologis, agama dipandang sebagai sesuatu yang memiliki hubungan dan interaksi sosial (dalam Hendropuspito, 1983: 34).

Definisi di atas menggambarkan beberapa unsur agama itu sendiri sebagai:
1)      Jenis sistem sosial. Hal ini menjelaskan agama sebagai suatu fenomena sosial, peristiwa kemasyarakatan dan oleh karenanya ia dapat dianalisis sebab terdiri dari suatu kompleks kaidah dan peraturan yang dibuat saling berkaitan dan terarahkan kepada tujuan-tujuan tertentu.
2)      Bersumber pada kekuatan yang nonempiris, yakni bahwa agama itu secara khusus berkaitan dengan kekuatan “dunia luar” yang dihuni oleh kekuatan-kekuatan yang lebih tinggi daripada kekuatan manusia yang dipercayai sebagai arwah, roh-roh dan Roh Tertinggi.
3)      Manusia mendayagunakan kekuatan-kekuatan di atas untuk kepentingannya sendiri dan masyarakatnya. Yang dimaksud dengan kepentingannya ialah keselamatannya di dunia sekarang dan di “dunia lain” yang dimasuki manusia sesudah kematian.

Melalui uraian di atas dapat dipahami bahwa agama dipandang sebagai sesuatu norma yang mengatur kehidupan manusia yang meyakininya dan dengan berdasarkan pada keyakinannya itulah manusia melakukan segala bentuk pengabdian dalam bentuk perilakunya kepada agama yang diyakininya karena di dalamnya memuat berbagai aturan dan perintah serta larangan. Dengan berbekal keyakinan inilah manusia akan menemukan konsep misterius Tuhan yang tidak dapat didekati melalui rasio atau pemikiran akal manusia.

Berdasarkan pada beberapa pandangan yang telah diuraikan di atas dapat dipahami bahwa antara perilaku keagamaan –baik secara langsung yang berwujud aktivitas ritual maupun yang tidak langsung– berhubungan dengan erat ajaran agama itu sendiri. Akhirnya, secara sederhana dapat dikatakan bahwa perilaku-perilaku yang muncul sebagai hasil dari pertimbangan yang didasarkan pada ajaran-ajaran agama yang dianutnya merupakan bentuk pengamalan agama atau norma-norma yang diyakininya.

Sementara itu dalam sosiologi, masyarakat juga dipandang sebagai sebuah sistem sosial dimana di dalamnya terjadi interaksi. Konsepsi sistem sosial, menurut Judhistira K. Garna (1994: 6) bermula dari pendapat para ilmuwan sosial abad ke-19 seperti Auguste Comte, Karl Marx, Herbert Spencer dan Émile Durkheim. Spencer misalnya, menganggap bahwa masyarakat ialah sebuah organisme yang terdiri atas bagian-bagian yang saling bergantung karena fungsinya masing-masing.

Sejalan dengan pendapat di atas, Talcott Parsons –yang masih dikutip oleh Judhistira (1994: 6-7) berpandangan bahwa sistem sosial ialah suatu proses interaksi di antara para pelaku sosial (actor) yang merupakan struktur sistem sosial adalah struktur relasi antara para pelaku sebagaimana yang terlibat dalam proses interaksi, dan yang dimaksudkan dengan sistem itu ialah suatu jaringan relasi tersebut.

Dalam hal ini Herbert Spencer memiliki pandangan bahwa sistem sosial sebagai sebuah ilmu ialah ilmu sosial yang membahas satuan-satuan sosial yang terjalin secara fisik, emosional, dan intelektual. Kemudian, perasaan saling mengakui adanya perasaan yang saling berhubungan. Secara lengkap, berikut ini pendapat Spencer: “The science of sociology sets out with social units, conditioned as we have seen, constituted physically, emotionally, and intellectually, and possessed of certain early acquired notions and correlative feelings” (Durkheim, 1985: 95).

Hubungan antara seorang individu dengan individu yang lain dalam sebuah masyarakat adalah sebuah sistem yang masing-masing memiliki fungsi. Sistem ini akan semakin membesar manakala frekuensi hubungan lebih jauh. Oleh karena masyarakat sebagai sebuah sistem yang terdiri atas berbagai unsur, maka terciptanya sebuah proses interaksi atau hubungan-hubungan sosial merupakan sebuah keniscayaan. Hal ini disebabkan oleh karena sebuah masyarakat memiliki tujuan-tujuan bersama yang mengharuskan mereka terlibat dalam proses tersebut (Susanto, 1999: 31).

Sebagai sebuah proses sosial, dengan sendirinya dalam sebuah sistem sosial ini akan mewujudkan integrasi yang lebih intensif, yaitu karena anggota masyarakat mempunyai perasaan interdependensi dan karena adanya usaha untuk tidak menjauhkan diri dari kelompoknya yang pada akhirnya terbentuklah sense of belongingness. Dalam hal ini, tampak dengan jelas adanya hubungan yang erat antara rasio dan emosi manusia. Bahkan, Bales dengan eksperimennya sampai pada kesimpulan bahwa dalam proses interaksi terjadi proses pergantian peranan antara emosi dan rasio (Susanto, 1999: 31).

Richard E. Engler (1964: 284) memberikan definisi sistem sosial sebagai berikut: “Social system is the patterns of relationship between the element –individuals and groups– of a designated aggregate of population”.

Sementara itu, Raymond Firth melihat masyarakat sebagai sebuah sistem karena ia melihat hubungan yang terjalin di antara masing-masing bagian dalam masyarakat dengan mengungkapkan “…with the ordered relations of parts to a whole, with the arrangement in which the elements of the social life are linked together. These relations must be regarded as built-up one upon another. They are series of varying orders of complexity” (dalam Redfield, 1955: 35).

Oleh karena itu, dalam konteks ini interaksi sosial dapat diartikan dengan proses saling mempengaruhi dan merumuskan pikiran, perasaan, harapan, dan kecemasan masing-masing. Karena interaksi sosial berlandaskan pada faktor kesadaran akan interdependensi, dengan sendirinya orang-orang tidak menginginkan bahwa kelompoknya terganggu.

Tidak setiap perilaku –meskipun nyata dan bersifat normal– merupakan  perilaku sosial. Sikap-sikap subyektif hanya merupakan perilaku sosial apabila berorientasi juga kepada perilaku pihak-pihak lain. Kegiatan ekonomis seseorang bersifat sosial apabila hal itu ada hubungannya dengan pihak ketiga (Weber, 1985: 9).

Sebagai sebuah aktivitas, interaksi sosial dapat berupa kerjasama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga muncul dalam bentuk pertentangan atau konflik (conflict) yang seluruhnya menggambarkan hubungan-hubungan yang signifikan dan membuat perubahan-perubahan dalam masyarakat.

Dalam hal ini, Charles Cooley yang dikutip oleh Soerjono Soekanto (1990: 80) menggambarkan penyebab timbulnya sebuah proses kerjasama sebagai berikut:

Kerjasama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut; kesadaran akan kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerjasama.
Gillin dan Gillin menyebutkan bahwa interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun hubungan antara orang-perorangan dengan kelompok manusia.

Interaksi sosial pada kenyataannya dapat lahir dalam berbagai bentuk. Ia muncul dalam bentuk yang positif yang mengantarkan sebuah kelompok masyarakat ke dalam sebuah hubungan yang harmonis dan tentram. Namun demikian, di pihak lain ia juga muncul dalam bentuk hubungan sosial yang negatif misalnya dalam bentuk pertentangan, persaingan dan sebagainya yang pada akhirnya akan memicu perubahan pola perilaku masyarakat yang dalam kehidupan sehari-hari banyak yang merupakan pengaruh dari ajaran Islam atau setidaknya sejalan dengan ajaran Islam yang mereka jadikan sebagai falsafah hidup dan sekaligus sumber pada apa yang mereka yakini dalam melakukan hubungan dengan sesama.

Persentuhan antara budaya pendatang –Islam yang sudah menjadi budaya– dengan budaya lokal –budaya yang terdapat dalam masyarakat setempat– akan melahirkan budaya baru sebagai perpaduan di antara keduanya. Oleh Dadang Kahmad (2003: 1) disebut sebagai kebudayaan Islam Sunda, apabila warna Islam-nya lebih dominan dari Sundanya; atau Sunda Islam jika kebudayaan Sunda lebih menonjol dari kebudayaan Islam.
C. Keterpaduan Islam dan Sunda
Agama yang masuk ke Tatar Sunda setelah melalui proses yang panjang pada akhirnya mewujud pada sebuah budaya baru yang disebut Islam Sunda atau Sunda Islam. Setelah melalui seleksi yang panjang pula Islam (baik sebagai agama maupun sebagai budaya) pada akhirnya menjadi bagian budaya milik urang Sunda. Islam sebagai ajaran dan sebagai budaya, pada masyarakat Sunda (Ki Sunda) pada saat ini sudah melembaga, baik pada upacara-upacara adat maupun pada pola interaksi. Pelembagaan Islam dalam upacara adat misalnya, dapat kita lihat pada adat perkawinan. 

Menurut Juhaya S. Praja (2003: 5), pesta perkawinan dalam masyarakat Sunda mengadopsi istilah walimah, dalam teks hadis yang menyerukan upacara atau pesta perkawinan awlim walaw bisyatin. Sementara kedudukan wanita sebagai “ibu” rumah tangga dan pria sebagai “pencari” nafkah digambarkan dalam kalimat “pamajikan” yang menurut para sastrawan Sunda berasal dari kata Arab fa maji’uka yang artinya tempat kembali suami setelah berusaha mencari nafkah.

Lebih lanjut mengenai fenoma Islam dalam masyarakat Sunda, menurut Juhaya S. Praja (2003: 6) bahwa manusia Sunda dituntut untuk memiliki sifat-sifat Rasul, yakni shidiq, fathonah, amanah, yang tergambar dalam kalimat cageur, bageur, singer, tur pinter. Untuk mencapai sifat-sifat tersebut, manusia Sunda diwajibkan menuntut ilmu dan mencari rizki yang tercermin dalam kalimat ilmu tuntut dunya siar. Sedangkan dalam melaksanakan tugas-tugasnya, baik sebagai individu dan keluarga maupun sebagai anggota masyarakat, maka ia harus melaksanakan apa yang wajib dan yang sunah secara berkesinambungan dan simultan sebagaimana terungkap dalam pribahasa fardu kalaku sunah kalampah.
D. Penutup
Islam-Sunda atau Sunda-Islam merupakan fenomena menarik yang perlu dikaji untuk mengungkap sebuah realitas keterpaduan dua budaya dalam berbagai aspeknya, yang dapat dikaji dari dua sudut pandang yaitu dari sudut Islam dan sudut budaya. Hasilnya akan bermanfaat dan dapat menjadi sumbangsih yang bagi pengembangan studi Islam dalam bidang dakwah khususnya dalam aspek tathwir dan tadbir. 

Kajian mengenai Islam-Sunda atau Sunda-Islam ini bagi kalangan akademisi bisa jadi melahirkan teori baru mengenai karakteristik pemetaan pengembangan dakwah berdasarkan karakteristik masyarakat sasaran dakwah (mad’u).

Daftar Pustaka
Amri Jahi. 1988. Komunikasi Massa dan Pembangunan Pedesaan di Negara-negara Dunia Ketiga. Jakarta: Gramedia.
Astrid S. Susanto. 1999. Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial. Jakarata: Putra A. Abardin.
Aswab Mahasin. 1996. Ruh Islam dalam Budaya Bangsa: Aneka Budaya Nusantara. Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal.
____________. 1996. Ruh Islam dalam Budaya Bangsa: Wacana Antar Agama dan Bangsa. Jakarta: Yayasan Festival Istiqlal.
Bahtiar Effendy. 2001. Masyarakat dan Pluralisme Keagamaan. Yogyakarta: Galang Press.
Dadang Kahmad. 2000. Sosiologi Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya.
____________. 2003. “Strategi Penelitian Islam Sunda dalam Persepektif Antropologis”. Makalah disampaikan dalam Workshop Strategi Penelitian Islam-Sunda tanggal 20-22 Juli 2003 di Garut. Lembaga Penelitian IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Durkheim, Émile. 1985. Aturan-aturan Metode Sosiologis (Terj. Soerjono Soekanto). Jakarta: Rajawali.
Engler, Richard E. 1964. The Challenge of Diversity, New York: Harper & Row Publishers.
Greely, Andrew M. 1972. The Denominational Society: A Sociological Approach to Religion in America. Scott, Foresman and Company: United States of America.
Hendropuspito. 1983. Sosiologi Agama. Yogyakarta: Kanisius.
Johnson, Doyle Paul. 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern (Terj. Robert M. Z. Lawang). Jakarta: Gramedia
Juhaya S. Praja. 2003. “Hukum Islam Dalam Tradisi  dan Budaya Masyarakat Sunda”. Makalah disampaikan dalam Workshop Strategi Penelitian Islam-Sunda tanggal 20-22 Juli 2003 di Garut. Lembaga Penelitian IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Redfield, Robert. 1955. Little Community. Chicago: University of Chicago Press.
Soerjono Soekanto. 1990. Sosiologi Sebuah Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Tohari, Hajriyanto Y. 1999. “Agama dan Realitas Budaya” dalam Pesan No. 26/ Th. I/VII/1999. Jakarta: Media Cita.
Weber, Max. 1985. Konsep-konsep Dasar dalam Sosiologi (Terj. Soerjono Soekanto). Jakarta: Rajawali Pers.
Share Button
(Visited 129 times, 2 visits today)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *