Home   Jurnalistik   Masa Depan Wartawan Cetak, Jurnalis Foto, dan Penyiar

Masa Depan Wartawan Cetak, Jurnalis Foto, dan Penyiar

persOleh ASM. Romli

Wahai para ibu, jangan biarkan bayi Anda berkembang menjadi reporter suratkabar. Atau penebang kayu, atau petugas pemadan kebakaran. (Mamas, don’t let your babies grow up to be newspaper reporters. Or lumberjacks, or firefighters).

Kalimat itu menjadi lead CNBC dalam The best and worst jobs of 2015 merujuk pada tiga jenis profesi terburuk di antara 10 pekerjaan paling buruk tahun 2015. Menurut data situs CarieerCast.com, wartawan media cetak menempati posisi 200 dalam daftar pekerjaan terbaik 2015 dan menjadi pekerjaan terburuk jika peringkatnya diurut dari bawah.

Peringkat profesi terbaik-terburuk 2015 itu disusun berdasarkan sejumlah faktor atau tolak ukur, termasuk lingkngan kerja, risiko, penghasilan (gaji), dan tingkat “tekanan” (stress).

Daftar lengkap peringkat dan detail per profesi bisa disimak di CareerCast.

Selain reporter, dua profesi sejenis (bidang komunikasi) yang masuk dalam daftar 10 profesi terburuk 2015 adalah wartawan foto dan penyiar (broadcaster).

Newspaper Reporter (Wartawan Media Cetak)

Faktor utama menurunnya pamor wartawan cetak karena kini era media online. Banyak koran gulung tikar karena kehilangan pelanggan dan pengiklan. Pemasukan pun turun drastis.  Banyak wartawan cetak beralih profesi menjadi Humas (Public Relation) yang lebih menjanjikan.

Broadcaster (Penyiar)

Kehadiran radio jaringan dan sindikasi konten siaran menjadi faktor yang menurunkan pamor profesi ini. A competitive marketplace has been made only more so in recent years, with outlets opting for syndicated broadcast content.

Photojournalist (Wartawan Foto)

Masalahnya hampir sama dengan wartawan cetak, yakni memudarnya popularitas media cetak. Media-media online memilih mengambil foto dari jasa sindikasi (syndicating services) daripada mempekerjakan fotografer. Belum lagi SmartPhone terkini makin menyaingi kamera dan setiap orang bisa memotret dengan mudah.

Tujuh profesi lainnya yang masuk daftar 10 pekerjaan terburuk 2015 adalah:

  1. Lumberjack (Penebang Kayu) –tersingkirkan teknologi.
  2. Enlisted Military Personnel (Tentara) –risikonya besar.
  3. Cook (Koki) –tingkat stress tinggi memenuhi konsumen.
  4. Corrections Officer (Petugas pemeriksa) –tingkat stress.
  5. Taxi Driver (Sopir Taksi) –tingkat stress dan persaingan transportasi.
  6. Firefighter (Pemadam Kebakaran) –risikonya besar.
  7. Mail Carrier (Tukang Pos) –tersingkirkan “new media” (internet & telepon/HP)

Profesi wartawan cetak, wartawan foto, dan penyiar masuk “terburuk” karena perkembangan teknologi internet yang berdampak pada kehadiran media-media online. Karenanya, agar tetap eksis, ketiga profesi ini harus mengikuti perkembangan zaman, yakni “adaptable” dengan media online.

Wartawan cetak mungkin tinggal kenangan karena media cetak yang masih bertahan pun kini memiliki “edisi online” atau portal berita.

Bagi Anda yang akan mengambil jurusan jurnalistik atau yang sudah menjadi mahasiswa jurnalistik, data di atas tidak boleh membuat Anda “down” apalagi “pesimistis”, selama Anda menguasai pengetahuan dan keterampilan yang memadai di bidang jurnalistik online dan media online.

New media, dalam arti media online, menjadi masa depan cerah bagi alumni jurnalistik dan humas. Era internet membuat semua instansi, lembaga, perusahaan, bahkan organisasi besar dan kecil, memiliki situs web (website) yang membutuhkan admin, author, penulis, manajer, atau Social Media Admin dan Web Content Editor.

Tumbuh berkembangnya metode & strategi kehumasan dan pemasaran baru, yakni Corporate Blogging dan Corporate Journalism, membuat lulusan jurnalistik yang terampil di bidang jurnalistik online & media online sangat dicari (most wanted).

Selain itu, lulusan jurnalistik, mahasiswa komunikasi, dan almuni jurusan apa pun, di era internet sekarang ini memiliki peluang besar menjadi onlinepreneur, blogpreneur, memiliki media sendiri, atau berbisnis online (usaha berbasis internet). Wasalam.*

 — ASM. Romli a.k.a Romel Tea adalah Dosen Praktisi Jurusan Komunikasi UIN SGD Bandung. Pengajar mata kuliah Jurnalistik Online & Jurnalistik Radio. Penulis buku “Jurnalistik Online”, “Broadcast Journalism”, dan buku-buku komunikasi praktis lainnya. Follow @romeltea

Share Button
(Visited 101 times, 1 visits today)

Related Post

3 Comments so far:

  1. kesimpulannya, baik buruknya sebuah pekerjaan itu didasarkan tingkat stress yang dialami pekerjanya…. kemudian resiko keselamatan… mungkin gitu ya…

  2. Demian says:

    Setiap pekerjaan pasti memiliki resikonya masing-masing. Tinggal bagaimana kita meyakinkan diri untuk sukses di bidang yang kita senangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *