Home   Makalah   Memperkuat Studi Komunikasi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Memperkuat Studi Komunikasi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung

asep-s-muhtadiOleh Asep S. Muhtadi

Salah satu poin penting Deklarasi Jakarta hasil The Second International Conference on Islamic Media yang dilaksanakan di Jakarta tanggal 12-15 Desember 2011 menyebutkan pentingnya membangun kerjasama antara praktisi dan akademisi media untuk mengembangkan standar-standar yang akan menjadi pedoman penting media di dunia Muslim.

Konferensi yang digelar atas kerjasama Kementerian Agama RI dengan The Muslim World League ini telah menginspirasi banyak hal khususnya terkait agenda pengembangan studi komunikasi di lembaga-lembaga pendidikan tinggi agama Islam, seperti halnya STAI, IAIN, dan UIN. Sejumlah pembicara dari berbagai negara memberikan perhatian serius terhadap tantangan baru perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang berpotensi mempengaruhi kehidupan masyarakat Muslim di dunia.

Sayangnya, sedikit sekali – bahkan hampir tidak ada – gagasan yang mengelaborasi pentingnya dikembangkan kajian-kajian akademis yang dapat dikembangkan pendidikan tinggi untuk merespon tantangan dimaksud. Forum konferensi yang dihadiri oleh lebih dari 50% akademisi ini seolah masih menyembunyikan kenyataan sedang merangkaknya kajian komunikasi di perguruan-perguruan tinggi agama Islam di balik semakin derasnya ancaman arus informasi yang saat ini tengah menyerbu masyarakat Muslim.

Ketiadaan bahasan tentang problem akademik ini memang wajar. Sebab, kalau dilihat dari kerangka acuan penyelenggaraannya, konferensi ini tidak dimaksudkan untuk membicarakan problem tersebut. Konferensi ini dirancang untuk melihat tantangan dan peluang dari kehadiran media baru seiring perkembangan mutakhir teknologi informasi dan komunikasi. Saya kira penting untuk menyelenggarakan pertemuan khusus untuk mengkaji problem-problem penyelenggaraan pendidikan ilmu komunkasi di perguruan-perguruan tinggi agama Islam. Termasuk di dalamnya dapat didiskusikan arah pendidikan serta kekhasannya sesuai misi pendidikan yang diembannya.

Di sisi lain, seperti kita ketahui, sejak dekade 1990-an, hampir di semua Perguruan Tinggi Agama Islam di Indonesia mulai dikembangkan studi komunikasi secara lebih mendalam. Bersamaan dengan dibukanya Fakultas Dakwah (sekarang Fakultas Dakwah dan Komunikasi) di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati tahun 1994, misalnya, dibuka pula Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Empat tahun kemudian, dibuka pula Program Studi Ilmu Komunikasi dengan Konsentrasi Jurnalistik dan Public Relations. Hampir sama dengan itu, di Jakarta, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah membuka pula prodi yang sama dan pada fakultas yang sama. Sedangkan di Yogyakarta, studi komunikasi dikembangkan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora.

Sebelumnya, ilmu komunikasi hanya dipelajari sebatas mata kuliah. Pada Fakultas atau Jurusan Dakwah di hampir semua IAIN di Indonesia, disajikan mata kuliah Ilmu Komunikasi, Retorika, Public Relations, dan Jurnalistik. Minat mahasiswa untuk mempelajari komunikasi saat itu tampak sangat tinggi. Tingginya minat ini tentu bukan saja karena secara pragmatis ilmu komunikasi sangat menarik dan relevan dengan fenomena baru pekembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sejak akhir 1980-an mulai agresif menyentuh masyarakat Indonesia, tapi juga karena secara akademik ilmu ini memiliki persentuhan yang sangat kuat dengan ilmu dakwah.

Namun demikian, dari sisi kurikulum, kehadiran ilmu komunikasi di sejumlah perguruan tinggi agama Islam di Indonesia belum mencerminkan kekhasan kajian, dan secara kelembagaan baru menjadi penggenap program studi yang memang diperlukan untuk kebutuhan pengembangan menuju universitas. Kajian-kajian mendalam bagaimana dunia dakwah merespon perkembangan media komunikasi belum banyak disentuh secara memadai. Pada saat yang sama, secara akademis ilmu komunikasi pun belum memberikan perhatian khusus dan mendalam untuk ikut memfasilitasi perkembangan ilmu dan praktik dakwah Islam.

Beberapa pembicara mulai menghubungkan perkembangan media baru dengan kepentingan penyelenggaraan dakwah Islam. Gagasan ini sangat menginspirasi imaginasi bagaimana dakwah dilakukan di era cyberspace yang sarat tantangan etik, teknologis, maupun sosial saat ini. Untuk merespon kebutuhan itu, misalnya, perlu dirumuskan ulang suatu pendekatan alternatif bagaimana menghadirkan Islam secara komprehensif persuasif di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Perlunya dirumuskan agenda baru pengembangan dakwah Islam ini terutama berkaitan dengan ikhtiar antisipatif atas berbagai kekhawatiran dampak negatif perkembangan media interaktif yang semakin jauh memasuki hampir seluruh pojok  kehidupan masyarakat. Benar bahwa media interaktif semacam internet telah memungkinkan para penggunanya lebih dapat melakukan kontrol interaksi mereka dengan menginterpretasikan material yang mereka terima, sebagaimana pula mereka mengkonstruksi pesan-pesan dalam media. Masyarakat sasaran dakwah pun akan semakin kreatif dan melek media dalam cara mereka berkomunikasi dengan sesamanya, meski tidak selalu dapat menghindari resiko yang muncul dari adopsi teknologi semacam ini.

Untuk memelihara peran-peran akademik khususnya dalam rangka menjawab berbagai tantangan seperti disebutkan di atas, saatnya perguruan tinggi agama Islam semacam UIN ini mengembangkan kajian komunikasi, baik dari sisi internal keilmuan dengan memperkuat konsep-konsep baru maupun secara eksternal dengan memberikan konstribusi akademis bagi kebutuhan pragmatis kehidupan masyarakat.

Pengembangan llmu dan Kelembagaannya

Sekurang-kurangnya terdapat dua variabel penting berkaitan dengan pengembangan kelembagaan ilmu khususnya di perguruan tinggi. Pertama, variabel internal sesuatu ilmu yang dikembangkan pada suatu lembaga pendidikan tinggi. Termasuk sebetulnya lembaga-lembaga pendidikan dasar dan menengah, karena mereka juga pada dasarnya mempelajari dan, konsekuensinya, mengembangkan sesuatu ilmu, baik spesifik maupun general. Variabel ini menyangkut substansi dari ilmu itu sendiri, khususnya yang meliputi aspek-aspek ontologi dan epistemologi.

Berkenaan dengan ilmu, ada beberapa catatan penting untuk diperhatikan. Di antaranya adalah bahwa ilmu itu berkembang. Ia tidak statis, tidak berhenti pada konsep-konsep yang seolah-olah telah dianggap mapan. Ilmu, khususnya ilmu-ilmu sosial dengan konsep dan teori yang menjadi “nyawa” kehidupannya, dapat terus berubah sesuai dengan perubahan dunia empirik yang menjadi sumber inspirasi lahir dan berkembangnya sesuatu ilmu. Ilmu lahir bermula dari keadaannya yang relatif sederhana. Lalu berkembang melalui cara-caranya sendiri, atau melalui interaksi dengan ilmu-ilmu lain yang telah lebih dulu dewasa.

Pada tingkat sofistikasi tertentu, ilmu itu tumbuh dan berkembang hingga melahirkan cabang-cabangnya yang baru. Ilmu Komunikasi, misalnya, lahir dari fenomena sosial yang sederhana. Ada perilaku interaksi (yang telah lebih dulu dikaji Sosiologi), dan ada pula efek sebagai salah satu akibat dari pemaknaan yang sama terhadap proses interaksi itu. Lalu berkembang dan dewasa terutama setelah dirinya menemukan model-model baru dari fenomena komunikasi yang diperankan oleh para pelakunya di dunia nyata. Termasuk dalam hal ini fenomena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang ikut serta menjadi faktor peubah dalam perilaku tersebut. Fenomena itulah yang kemudian diabstraksikan menjadi konsep-konsep sehingga akhirnya berkembang menjadi teori-teori dan bahkan grand theories.

Di samping itu, ia juga berkembang setelah berinteraksi dengan ilmu-ilmu lain yang telah lebih dulu dewasa, seperti Sosiologi, Psikologi, Ilmu Politik, dan Ilmu Ekonomi. Ketika tubuhnya telah semakin gemuk, ia pun melahirkan cabang-cabangnya yang baru yang secara spesifik hanya mengkaji fenomena tertentu dari fenomena komunikasi secara makro, seperti lahirnya ilmu khusus yang hanya berbicara tentang komunikasi antar pribadi, komunikasi kelompok, komunikasi massa, komunikasi persuasif, komunikasi politik, komunikasi bisnis, dan lain sebagainya.

Demikian halnya dalam kasus ilmu-ilmu sosial lainnya, termasuk ilmu dakwah. Ilmu dakwah “seharusnya” (dan memang “senyatanya”) terus berkembang. Jika pada awalnya ilmu ini hanya mencakup fenomena penyebaran agama dalam problematikanya yang masih relatif terbatas, maka kini ia telah mencakup berbagai fenomena yang membutuhkan analisis lebih spesifik. Terhadap kenyataan semakin kompleksnya perubahan masyarakat serta munculnya berbagai penemuan ilmu pengatahuan dan teknologi yang penerapannya dapat berakibat pada berbagai tatanan kehidupan, misalnya, perlu dirumuskan disiplin yang lebih spesifik berkaitan dengan kepentingan istinbath metode dan pendekatan dakwah sesuai dengan kebutuhan.

Kedua, variabel eksternal yang juga intensif mempengaruhi eksistensi sesuatu ilmu. Indikator sederhananya, variabel ini dapat diamati pada tuntutan kebutuhan manusia terhadap sesuatu konsep, teori, atau bahkan ilmu itu sendiri. Ilmu baru itu dibutuhkan, mungkin karena ilmu-ilmu yang ada sudah dipandang tidak relevan atau tidak mampuh lagi memahami, menjelaskan, menganalisis atau bahkan mungkin memprediksi fenomena sosial yang berkembang. Sehingga manusia membutuhkan “alat” baru untuk memenuhi kebutuhannya itu. Dalam konteks kebutuhan inilah, secara aksiologis, sesuatu ilmu kemudian berkembang.

Termasuk ilmu komunikasi yang diasuh dan dikembangkan di berbagai “lahan” pendidikan tinggi. Pengembangan teori-teori komunikasi pada lahan suatu perguruan tinggi akan sangat mungkin berbeda dengan lahan perguruan tinggi lainnya. Bahkan untuk memberikan konstribusi akademik yang lebih kaya, setiap perguruan tinggi sejatinya menjadi “lahan” yang berbeda sehingga dapat mengembang sesuatu ilmu secara berbeda-beda pula.

Jadi, adalah pada tempatnya jika studi komunikasi di Fakultas Dakwah dan Komunikasi diarahkan pada upaya memberikan konstribusi akademik bagi kepentingan pengembangan ilmu dakwah yang sejak era 1970-an tampak kurang berkembang. Konsep-konsep, teori-teori, bahkan definisinya pun masih saja berkutat pada rumusan-rumusan lama, padahal tantangan dan fenomena dakwah telah sedemikian jauh berkembang. Karena itu pula studi komunikasi pada program studi KPI program magister (S2) UIN Bandung yang baru saja lahir, telah mencoba merambah wilayah baru dalam konteks pengembangan ilmu komunikasi, dan bersentuhan dengan wilayah kajian dakwah, seperti kajian komunikasi profetik, komunikasi lintas agama, serta mulai mengkaji hubungan-hubungan fungsional-ilmiah antara agama, masyarakat, dan agama.

Pertanyaannya kemudian adalah, siapa yang mengembangkan ilmu itu? Jawabnya adalah, bukan lembaga perguruan tinggi, tetapi para peneliti dan pemilik ilmu, baik individual maupun kelompok. Kelompok pemilik ilmu (komunitas ilmiah, scientific community), dalam hal ini, diperlukan untuk kepentingan pengujian apakah sesuatu konsep itu telah memenuhi kualifikasi ilmiah untuk menjadi teori dan atau bahkan berkembang menjadi cabang ilmu baru atau belum. Dan apakah telah diperlukan suatu institusi yang bertujuan mempelajari dan mengembangkan ilmu itu. Mereka punya otoritas ilmiah dalam melakukan penilaian terhadap sesuatu ilmu, sesuai dengan spesifikasi keahliannya masing-masing.

Lalu, untuk kepentingan pengembangan ilmu itu, secara teknis dilakukan upaya institusionalisasi ilmu. Di lihat dari sisi penjenjangan pendidikannya, terdapat institusi pendidikan mulai dari jenjang pendidikan dasar, menengah, sampai pada jenjang pendidikan tinggi. Di lihat dari sisi organisasi yang mengatur mekanisme penyelenggaraan pendidikan itu, di Indonesia, terdapat kementrian-kementrian yang mengurus pendidikan. Semua institusi tersebut dibentuk dengan maksud untuk memperlancar kegiatan para peneliti dan pemilik ilmu, baik pada aspek perumusan dan pengembangan sesuatu ilmu maupun pada aspek penyebarluasannya.

Karena itu, kehadiran perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan tingkat tinggi, salah satunya, dimaksudkan untuk memfasilitasi secara formal kegiatan para peneliti dan pemilik ilmu dalam merumuskan, mengembangkan dan menyebarluaskan sesuatu ilmu, baik melalui kegiatan pendidikan (seperti belajar-mengajar), penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat. Pada perguruan tinggi, para pemilik otoritas ilmiah seperti disebutkan di atas, digelari sebagai Guru Besar, Ustadz, atau Profesor. Merekalah sebagai komunitas peneliti dan pemilik ilmu.

Nah, kembali pada tema tulisan ini, bagaimana nasib ilmu komunikasi di UIN Sunan Gunung Djati Bandung? Apakah ia merasa nyaman tinggal di “rumah” yang saat ini dihuninya? Apakah di “rumah” ini dapat hidup normal sesuai watak asli sesuatu ilmu yang dapat tumbuh subur dan berkembang biak? Dapatkah ia melahirkan anak-anak ilmu yang dapat memberikan konstribusi pada dunia akademik khususnya dan dunia pragmatis pada umumnya? Dan apakah institusi yang mewadahinya telah memadai untuk mengantisipasi pengembangan misi akademik yang diembannya?

*) Prof. Dr. Asep S. Muhtadi, MA, Guru Besar Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung. Disampaikan dalam diskusi rutin dosen Ilmu Komunikasi UIN SGD Bandung, Rabu 11 Desember 2013.

Share Button
(Visited 15 times, 1 visits today)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *