Home   Opini   Setelah Lulus, Masihkah Mahasiswa Hormati Dosennya?

Setelah Lulus, Masihkah Mahasiswa Hormati Dosennya?

wisuda-topi-sarjanaSetelah Lulus, Masihkah Mahasiswa Hormati Dosennya? Pertanyaan ini muncul setalah ada (mungkin banyak) kasus mahasiswa hanya hormat saat masih duduk di bangku kuliah alias belum lulus. Setelah jadi sarjana, bahkan mendapatkan pekerjaan atau profesi yang “lebih tinggi” dari profesi dosen, mahasiswa merasa “lebih” pula.

Bahkan, tidak jarang, setelah lulus itu, sang mahasiswa yang kini bergelar sarjana itu, “menjelek-jelekkan” almamater dan/atau dosennya di luar sana.

Insya Allah, alumni UIN Bandung, wabilkhusus alumni Komunikasi UIN SGD Bandung, tidak akan demikian. Di UIN Komunikasi UIN Bandung, diterapkan sebuah sistem dan kurikulum yang diharapkan mampu membentuk karakter komunkator profesional atau praktisi dan akademisi komunikasi yang berakhlak mulia, membela nama baik Islam, nama baik orangtua, nama baik guriu (dosen), nama baik kampusnya juga.

Hormat pada dosen (guru), hakikatnya adalah hormat pada ilmu, bukan semata-mata hormat kepada orang yang lebih berilmu dan “orang tua” (orang yang lebih tua).

CIUM TANGAN

Sebagai lembaga pendidikan Islam, di UIN SGD Bandung yang dulu bernama IAIN SGD Bandung, ada budaya luhur pesantren yang masih dihidupkan dan dipertahankan, salah satunya adalah mahasiswa mencium tangan dosennya. Sebuah simbol penghormatan –mungkin bagi sebagian kalangan itu simbol “feodalisme”.

Percayalah, saya sendiri, yang bukan alumni UIN, namun dipercaya menjadi “dosen tamu” sejak 2013, merasa ‘risih” harus dicium tangan oleh mahasiswa/mahasiswi. Namun, lama kelamaan, saya menyadari budaya pesantren yang sangat baik itu. Sebuah tradisi yang hakikatnya memuliakan ilmu dan memuliakan orangtua.

Lama kelamaan, muncul rasa tanggung jawab sebagai “orangtua” dan memandang mereka (mahasiswa) sebagai anak.

Di kelas, saya sering marah jika mahasiswa lalai menjalankan tugas. Sebuah “amarah penuh kasih” orangtua yang ingin anak-anaknya menjadi “someone” suatu saat, memiliki derajat tinggi di mata Allah dan manusia, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran: Allah meninggikan derajat orang beriman dan berilmu beberapa level.

MEMULIAKAN ILMU

Dalam sebuah nasihat ulama di kalangan pesantren disebutkan, meskipun sudah tidak dibimbing lagi oleh guru/dosen (karena sudah lulus), seorang murid hendaklah tetap selalu mengingat jasanya dan tetap terus mendoakan kebaikan–kebaikan atas mereka.

Bagaimanapun juga, guru/dosen merupakan “orangtua kedua” kita setelah orangtua kita yang di rumah. Mereka adalah orang tua kita saat kita berada di luar rumah (di sekolah/di kampus). Jadi, sebagaiman kita menghormati orang tua kandung kita, maka kita pun harus menghormati guru kita.

Islam mengajarkan demikian. Rasulullah SAW bersabda:

“Tidak termasuk umatku orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua dari kami, tidak mengasihi orang yang lebih kecil dari kami dan tidak mengetahui hak orang alim dari kami.”  (HR.Ahmad, Thabrani, dan Hakim dari Ubadah bin Shamit Ra.)

“Pelajarilah oleh kalian ilmu, pelajarilah oleh kalian ilmu(yang dapat menumbuhkan) ketenangan, kehormatan, dan rendahkanlah dirimu terhadap orang yang kalian menuntut ilmu darinya.” (HR. Thabrani dari Abu Hurairah. Ra). Wallahu a’lam. (ASM. Romli).

Share Button
(Visited 33 times, 1 visits today)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *