Tag Archives: jurnalistik

Home   Tag : jurnalistik

Menulis Artikel dan Tajuk Rencana

blog-thumbnail

  Buku dengan judul “Menulis Artikel dan Tajuk Rencana” yang ditulis oleh Drs. AS Harus Sumadiria, M.Si ini, semula hanyalah catatan pengantar yang disampaikan ratusan kali dalam berbagai forum pelatihan jurnalistik dan kehumasan di berbagai kampus serta instansi pemerintah dan swasta di Pulau Jawa. Panjangnya tidak lebih dari lima halama kuarto spasi rangkap. Di beberapa kampus dan di lingkungan ICMI Jawa Barat di Bandung, catatan pengatar itu sudah dijadikan bacaan wajib. Inilah buku paling lengkap di  kelasnya yang membahas teori, teknik, dan kiat menulias artikel dan tajuk rencana konsumsi surat kabar, tabloid, dan majalah. Buku ditulis dengan menggunakan dua pendekatan sekaligus, pendekatan teoritis dan pendekatan praktis. Buku ini bermanfaat terutama […]

Bahasa Jurnalistik

blog-thumbnail

Buku “Bahasa Jurnalistik” merupakan panduan praktis penulis dan jurnalis yang ditulis oleh Drs. AS Haris Sumadiria, M.Si. buku ini adalah buku seri jurnalistik ketiga yang ditulis oleh pria kelahiran Sumedang Jawa Barat. Buku pertama, “Menulis Artikel dan Tajuk Rencana” pada Oktober 2004, dan buku kedua “Jurnalistik Indonesia, Menulis Berita dan Feature (Maret 2005). Dalam buku ini, pembaca diajak meluangkan waktu, bertamasya ke objek-objek dunia bahasa jurnalistik, seprti mengenai arti dan fungsi bahasa jurnalistik serta bercanda dengan kata-kata dan diksi jurnalistik. Pembaca belajar menyelami karakteristik kalimat jurnalistik, dan rehat sejenak kuis tentang ejaan dalam bahasa jurnalistik, dan kursus singkat penulisan naskah berita radio dan telvisi. Setelah itu pembaca dapa tmencoba berbagai […]

Jadi Wartawan Harus Kuliah Jurusan Jurnalistik

Untuk jadi wartawan memang tidak harus kuliah jurnalistik. Namun, sarjana jurnalistik akan menjadi wartawan yang jauh lebih baik, lebih profesional, dan lebih beretika. Catatan: ASM. Romli. “Haruskah Kuliah Jurnalistik untuk Jadi Wartawan?” atau “Untuk jadi wartawan, mestikah kuliah jurusan jurnalistik?” adalah pertanyaan “klasik”. Banyak mahasiswa jurusan jurnalistik jadi “galau” dengan adanya pertanyaan tersebut. Mungkin banyak juga lulusan SMA yang membatalkan niatnya daftar di Jurusan Komunikasi Jurnalistik. Pertanyaan “Haruskah Kuliah Jurnalistik untuk Jadi Wartawan?” muncul karena empat hal berikut ini: Banyak wartawan yang bukan sarjana jurnalistik bahkan tidak pernah duduk di bangku kuliah sama sekali. Perusahaan media atau lembaga pers, saat membuka lowongan kerja wartawan, umumnya menyebutkan “Sarjana S1 Semua Jurusan”, […]

Masa Depan Sarjana llmu Komunikasi

MASA depan mahasiswa lulusan atau sarjana ilmu komunikasi sudah dikemukakan dalam posting Prospek & Orientasi Karier Lulusan Jurusan Komunikasi. Disebutkan, lulusan Ilmu Komunikasi (Program Studi Jurnalistik & Program Studi Humas) banyak dibutuhkan oleh berbagai instansi dan perusahaan, khususnya industri media massa, seperti televisi, surat kabar, radio, dan media online. Posisi-posisi itu antara lain sebagai wartawan, reporter, presenter, script writer, dan fotografer. Para lulusan Humas juga tengah dibutuhkan berbagai perusahan dan lembaga pemerintahan, baik sebagai praktisi kehumasan, public relations officer (PRO), negosiator (lobiest), maupun diplomat dan social media manager. Posisi-posisi penting yang menantinya para lulusan Komunikasi Jurnalistik di antaranya sebagai ilmuwan (dosen, peneliti, dan analis), praktisi media (wartawan, reporter, editor, redaktur, kolomnis, penyiar radio, presenter […]

Masa Depan Wartawan Cetak, Jurnalis Foto, dan Penyiar

Oleh ASM. Romli Wahai para ibu, jangan biarkan bayi Anda berkembang menjadi reporter suratkabar. Atau penebang kayu, atau petugas pemadan kebakaran. (Mamas, don’t let your babies grow up to be newspaper reporters. Or lumberjacks, or firefighters). Kalimat itu menjadi lead CNBC dalam The best and worst jobs of 2015 merujuk pada tiga jenis profesi terburuk di antara 10 pekerjaan paling buruk tahun 2015. Menurut data situs CarieerCast.com, wartawan media cetak menempati posisi 200 dalam daftar pekerjaan terbaik 2015 dan menjadi pekerjaan terburuk jika peringkatnya diurut dari bawah. Peringkat profesi terbaik-terburuk 2015 itu disusun berdasarkan sejumlah faktor atau tolak ukur, termasuk lingkngan kerja, risiko, penghasilan (gaji), dan tingkat “tekanan” (stress). Daftar […]