Dampak Corona terhadap Media Online: Pembaca Naik, Pendapatan Turun Drastis

jurnalistik media online

Ilustrasi media online (Shutterstock)

Pandemi Virus Corona atau Coronavirus Desease 2019 (Covid-19) sejak awal 2020 berdampak buruk bisnis media online dari segi pendapatan. Sejumlah media bahkan harus memotong gaji wartawan dan menunda THR.

Jumlah pembaca media online naik seiring protokol kesehatan “diam di rumah” dan “bekerja dari rumah” (work from home), namun menurun drastis dari sisi pendapatan.

Dampak pandemi corona terhadap bisnis media online itu dikemukakan Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wenseslaus Manggut, dalam sebuah diskusi bertema Covid-19 dan Industri Media di Jakarta, Jumat (5/6/2020).

Wenseslaus menjelaskan, pada survei yang dilakukan pihaknya terhadap 300 lebih anggota AMSI, jumlah pembaca media online justru naik. Sayangnya, kenaikan trafik itu berbanding terbalik dengan pendapatan mereka.

“Kami survei tentang situasi media saat pandemi, traffic naik di daerah-daerah, hampir semua media lokal naik tinggi, ada yang naik hingga 200 persen. Tapi revenue turun jauh, rata-rata 30-40 persen,” ungkapnya.

Dalam survei yang dilakukan 25 April hingga 5 Mei 2020 kepada ratusan media online di kota besar dan daerah-daerah, pendapatan perusahaan media yang turun berasal dari pemasukan iklan yang berkurang drastis.

Khusus di media online di daerah-daerah, penurunan iklannya hingga 80 persen karena biasanya orderan mereka berasal dari pemerintah daerah. Besarnya biaya yang dibutuhkan untuk penanganan COVID-19 di daerah membuat pemerintah daerah menahan diri untuk beriklan.

Selain itu, sebanyak 20 persen media online memilih untuk memotong gaji wartawannya ketimbang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Media yang menunda pembayaran gaji dan Tunjangan Hari Raya (THR) sebanyak 15 persen.

“Media yang merumahkan karyawan ada 15 persen, terjadi di Jawa Timur, Riau, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Tenggara,” terangnya.

Wenseslaus menyebut salah satu media online daerah di Jawa Timur harus tutup karena tak mampu bertahan. Dia memprediksi, arus kas media online hanya mampu bertahan hingga 4-5 bulan ke depan.

Karena itu, dia menyarankan agar media-media online mencari pendanaan ke lembaga-lembaga yang memiliki perhatian pada budaya Indonesia. Dia menyebut saat ini ada 45 media di Indonesia yang arus kasnya bisa bertahap 3 hingga 6 bulan ke depan karena mendapatkan suntikan dana.

Naiknya jumlah pembaca media online diamini oleh Pemimpin Redaksi Kumparan, Arifin Asydhad. Dalam diskusi ini, dia memaparkan, sejak corona masuk ke Indonesia hingga saat ini, jumlah pembaca berita kumparan naik 100 persen.

Arifin juga mengatakan, naiknya jumlah pembaca berbanding terbalik dengan pendapatan yang masuk dari iklan. Meski tak menyebut besaran angka iklan yang turun, dia menyebut bulan lalu terjadi penurunan iklan yang tajam pada media yang mengusung kolaborasi ini.

“Market maksudnya advertising ini turun. Maret masih naik, April puncaknya padahal Covid-19 sudah mulai banyak. Tapi Mei turun drastis,” terang dia.

Arifin menjelaskan, sejak tahu virus corona bakal menggerus pendapatan media, pihanya sudah bersiap mulai Februari lalu. Di internal perusahaan, manajemen membentuk tim khusus untuk melakukan kajian terhadap kondisi tak menyenangkan ini sebab tidak ada yang tahu kapan pandemi akan berakhir. (Sumber).*

(Visited 10 times, 1 visits today)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *