Idul Adha sebagai Katalis Komunikasi Keluarga

Oleh: Dr. H. Encep Dulwahab, M.I.Kom
ADA dua perayaan besar yang dilakukan setiap tahun oleh umat muslim di penjuru dunia, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Khusus untuk perayaan Idul Adha, tidak hanya ritual peringatan bagaimana bentuk pengorbanan dan ketaatan Nabi Ibrahim kepada Sang Khalik, Allah SWT. Di balik kisah yang besar dan terus dibedah dan dinarasikan ke setiap generasi, ada pesan yang ingin diwariskan Nabi Ibrahim dan keluarganya, kepada keluarga-keluarga di setiap zamannya, yaitu mewariskan pola pedagogis dalam membangun komunikasi keluarga.
Sebagaimana terekam dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 102, mengenai komunikasi keluarga Nabi Ibrahim dengan putranya, Nabi Ismail, yang pantas kita terapkan dalam keluarga kita. Kita lihat cara Nabi Ibrahim sebagai seorang ayah yang membuka ruang dialog ketika menginformasikan perintah Allah SWT kepada Nabi Ismail. “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.”
Pada kata-kata terakhir dari Nabi Ibrahim, “maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu” kita bisa melihat betapa bijaknya Nabi Ibrahim, yang begitu menghargai pendapat anaknya, dan tidak memposisikan dia sebagai seorang ayah sekaligus nabi, yang memiliki otoritas untuk langsung mengeksekusi perintah-Nya. Namun Nabi Ibrahim meminta anaknya yang pada waktu itu masih kecil, untuk merenungkan perintah Allah SWT, dan menunggu pendapat Ismail.
Tanpa diduga jawaban Nabi Ismail mendukung apa yang diinformasikan Nabi Ibrahim terkait dengan perintah Allah SWT, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Jawaban Nabi Ismail ini merupakan jawaban yang murni dan tidak ada intervensi sama sekali dari anggota keluarga.
Pola Komunikasi Keluarga
Jawaban dari Nabi Ismail ini juga sebagai buah dari pola komunikasi keluarga yang dibangun Nabi Ibrahim. Pola komunikasi keluarga yang penuh dengan pendekatan saling menghargai pendapat, dan dalam memutuskan segala sesuatu mengedepankan musyawarah.
Menurut Syam (2020) komunikasi keluarga Nabi Ibrahim ialah komunikasi interaktif dialogis humanistis, di mana orang tua tidak otoriter, melainkan mau menjadi pendengar yang aktif pendapat anak-anak, dau mau memberi ruang anak untuk merenungkan dan mengambil sikap tanpa paksaan.
Kisah Ibrahim mengingatkan kita untuk membangun komunikasi keluarga yang sehat. Karena ada banyak keluarga yang mengalami krisis dalam komunikasi, terutama komunikasi otoriter dari orang tua kepada anak-anaknya. Tidak mau menjadi pendengar anak-anaknya, seringkali menganggap anak-anak tidak paham akan dunia.
Pola komunikasi otoriter seperti itu dalam keluarga, cenderung melahirkan anak yang rentan, anak bisa menjadi kurang percaya diri, tidak bisa bergaul dengan teman-temannya, dan besar peluangnya anak berkonflik dengan orang tua (Nisa & Fajriyah, 2023). Tidak heran kalau anak-anak tidak betah tinggal di rumah, tidak dekat dengan para orangtua atau anggota keluarga lainnya. Mereka lebih memilih dekat dengan orang lain.
Kisah keluarga Ibrahim membuktikan komunikasi keluarga bisa membentuk karakter anak. Mari kita budayakan komunikasi keluarga yang mau menjadi pendengar yang bijak sebelum memerintah, menghargai dan mengapresiasi, dan mau membuka ruang untuk anak-anak agar mereka tumbuh menjadi anak yang berani bersuara.***
Baca Juga Berita Lainnya

HIMMAS CUP 2026, Turnamen Futsal Antarpelajar Jabar Jadi Wadah Prestasi dan Pembelajaran Mahasisw

Tembus Seleksi Nasional, Mahasiswi UIN Bandung Jadi Delegasi Womenspirasi Summit 3.0 di Kemenpora RI

Taklukkan Kompetisi Nasional, Anggia Ananda Safitri Bawa Pulang Medali Emas IYSC 2026

Bekali Mahasiswa Hadapi Penipuan Digital, Bank Neo Commerce Gandeng HIMMAS UIN Bandung

Dari Skripsi ke Jurnal Bereputasi: Prof. Fakhruroji Bongkar Strategi Publikasi Ilmiah bagi Mahasiswa Humas


