Jurnalisme Olahraga, Tak Sekadar Menghitung Gol

Oleh: Enjang Muhaemin
Suatu ketika saya bertanya kepada beberapa mahasiswa yang baru belajar jurnalistik, “Apa tugas wartawan olahraga?”
Jawabannya hampir sama. “Meliput pertandingan, Pak.” Ada yang menjawab, “Menulis hasil pertandingan.” Sebagian lagi mengatakan, “Memberitakan siapa yang menang dan siapa yang kalah.”
Jawaban-jawaban itu tidak salah. Hanya saja, belum lengkap.
Kalau tugas wartawan olahraga hanya menghitung gol, mencatat skor, atau melaporkan klasemen, mungkin komputer sudah bisa menggantikannya. Hari ini, dalam hitungan detik, aplikasi statistik mampu menyajikan jumlah penguasaan bola, akurasi umpan, jumlah tembakan, bahkan menghitung peluang kemenangan sebuah tim secara otomatis.
Bahkan Artificial Intelligence (AI) akan sanggup membuat ringkasan pertandingan sebelum wartawan selesai berjalan meninggalkan stadion.
Lalu, di mana letak pentingnya seorang jurnalis olahraga?
Jawabannya sederhana. Wartawan tidak hanya melaporkan pertandingan. Wartawan juga menceritakan manusia.

Di balik satu gol yang tercipta, ada latihan bertahun-tahun yang tidak pernah dilihat penonton. Di balik satu penyelamatan gemilang seorang penjaga gawang, ada ribuan kali latihan yang penuh kegagalan. Di balik selebrasi kemenangan, sering kali tersimpan pengorbanan keluarga, cedera panjang, hingga perjuangan yang nyaris membuat seorang atlet menyerah.
Semua itu tidak pernah muncul di papan skor.
Karena itu, jurnalisme olahraga sejatinya adalah jurnalisme tentang kehidupan.
Seorang wartawan olahraga yang baik datang ke stadion bukan hanya membawa buku catatan, tetapi juga membawa rasa ingin tahu.
Ia ingin mengetahui mengapa pertandingan berubah pada babak kedua. Mengapa pelatih berani mengambil keputusan yang berisiko. Mengapa seorang pemain muda tampil begitu percaya diri, sementara pemain senior justru kehilangan sentuhan.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang melahirkan cerita.
Sayangnya, di era media digital, jurnalisme olahraga sering terjebak dalam perlombaan menjadi yang tercepat. Belum peluit panjang dibunyikan, berita sudah tayang. Belum konferensi pers selesai, judul sudah menyebar di media sosial. Kecepatan memang penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran kualitas.
Yang sering terlupakan adalah kedalaman.
Padahal, pembaca tidak selalu membutuhkan berita yang paling cepat. Mereka membutuhkan berita yang paling bermakna.
Pembaca ingin mengetahui bukan hanya apa yang terjadi, tetapi mengapa itu terjadi.
Di sinilah jurnalis olahraga dituntut memiliki bekal yang lebih dari sekadar kemampuan menulis. Ia harus memahami permainan, menguasai data, mampu membaca strategi, piawai melakukan wawancara, sekaligus memiliki kepekaan terhadap sisi-sisi kemanusiaan yang sering luput dari perhatian.
Jurnalisme olahraga juga menuntut integritas. Kedekatan dengan atlet, klub, atau suporter tidak boleh mengaburkan objektivitas. Wartawan bukan pendukung salah satu tim. Ia berdiri di sisi publik. Tugasnya menghadirkan fakta secara utuh, bukan memperkuat fanatisme.
Era AI menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Teknologi dapat membantu mencari data, mentranskrip wawancara, hingga menyusun statistik pertandingan dalam hitungan detik. Semua itu patut dimanfaatkan. Namun, ada satu hal yang tidak dapat diproduksi oleh mesin: empati.
Mesin mampu menghitung jumlah tembakan ke gawang, tetapi tidak mampu memahami kesedihan seorang atlet yang gagal mengangkat trofi setelah bertahun-tahun berjuang.
Mesin dapat menuliskan kronologi pertandingan, tetapi tidak dapat merasakan getaran stadion ketika puluhan ribu penonton berdiri memberikan tepuk tangan kepada pemain yang terluka.
Di situlah manusia tetap dibutuhkan.
Saya sering mengatakan kepada mahasiswa bahwa wartawan yang baik bukanlah orang yang paling cepat mengetik berita. Wartawan yang baik adalah orang yang mampu menemukan cerita yang tidak ditemukan orang lain.
Dalam jurnalisme olahraga, cerita itu sering kali bukan berada di tengah lapangan. Ia bisa berada di bangku cadangan, di lorong stadion, di ruang ganti, bahkan di wajah seorang anak kecil yang memeluk erat kaus pemain idolanya.
Maka, jika kelak Anda memilih menjadi jurnalis olahraga, jangan puas hanya menjadi pencatat skor. Jadilah pencatat sejarah.
Sebab pertandingan akan selesai ketika peluit panjang dibunyikan. Skor akan berganti pada pertandingan berikutnya. Rekor suatu hari akan terpecahkan.
Namun, kisah tentang perjuangan, sportivitas, kerja keras, dan harapan akan selalu menemukan pembacanya.
Dan di situlah jurnalisme olahraga menjalankan tugasnya yang paling mulia: bukan sekadar mengabarkan siapa yang menang, melainkan mengingatkan kita mengapa sebuah perjuangan selalu layak untuk diceritakan.***
Baca Juga Berita Lainnya

“Sportswashing” Piala Dunia

HIMMAS CUP 2026, Turnamen Futsal Antarpelajar Jabar Jadi Wadah Prestasi dan Pembelajaran Mahasisw

Tembus Seleksi Nasional, Mahasiswi UIN Bandung Jadi Delegasi Womenspirasi Summit 3.0 di Kemenpora RI

Taklukkan Kompetisi Nasional, Anggia Ananda Safitri Bawa Pulang Medali Emas IYSC 2026


