“Sportswashing” Piala Dunia

Rabu, 22 Juli 2026
“Sportswashing” Piala Dunia

Oleh: Encep Dulwahab

BERAKHIR sudah pesta sepak bola yang mampu menghibur masyarakat dunia. Tidak hanya masyarakat yang berada di negara yang merdeka dan tidak ada ancaman, negara-negara sedang bertikai pun turut serta euforia dalam piala dunia yang berlangsung 39 hari, dari 11 Juni sampai 20 Juli 2026. Durasi yang lebih lama jika dibandingkan perhelatan piala dunia edisi 2014 dan 2018.

Keunikan lainnya ialah negara yang berpartisipasi lebih banyak, dari 32 menjadi 48 tim, pertandingan pun menjadi lebih banyak. Bahkan ada tim yang negaranya sedang berperang  seperti Iran dan Amerika Serikat. Khusus untuk tim Iran, selalu mendapat ujian di atas lapangan, dan jauh sebelum bertanding. Tuan rumah pun unik, yang diselenggarakan tiga negara, yaitu Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat. Di mana Amerika Serikat tuan rumah piala dunia yang sedang bertikai dengan Iran.

Di bawah tekanan politik, di bawah ancaman nuklir, dan di bawah perseteruan Iran, Israel dan Amerika Serikat, sepakbola mampu mengobati penderitaan meskipun sesaat. Namun sayang, perhelatan sepakbola ini yang diharapkan bisa menjadi media yang mempersatukan dan menegakkan perdamaian, perang malah kembali terjadi dan terus berlangsung sampai sekarang.  

Jangan Sebatas Adu Gengsi

Piala Dunia seharusnya tidak hanya sebatas ajang adu gengsi tim-tim dengan strategi sepakbola, dan para pemain top dunia beradu skill di atas rumput hijau. Piala Dunia dapat menjelma menjadi panggung diplomasi di antara negara yang sedang bertikai, tempat pesan-pesan perdamaian disuarakan.

Ada banyak bukti kalau sepak bola dan Piala Dunia bisa menjadi media untuk mewujudkan perdamaian. Sebagaimana pesepakbola asal Pantai Gading, Didier Drogba, saat negaranya perang, antara pemerintah dan kelompok pemberontak, Drogba dan pemain lainnya yang sedang merayakan tiket Piala Dunia 2006, di depan kamera, berlutut dan menyampaikan permohonan agar rakyat Pantai Gading meletakkan senjata dan berdamai. Pesan itu disiarkan di tv nasional dan mendorong kedua kubu melakukan gencatan senjata.

Kemudian ada Nelson Mandela menggunakan Piala Dunia Rugby 1995 untuk mendamaikan Afrika Selatan pasca apartheid. Inilah salah satu cikal bakal Afrika menjadi tuan rumah Piala Dunia pertama kali tahun 2010. Kejadian ini oleh para pengamat disebut-sebut sebagai puncak keyakinan Mandela kalau sepak bola bisa media yang mempersatukan orang, bahkan berbeda benua sekalipun.

Kemudian pada tahun 2016, Pelé dan Ronaldinho, meresmikan “Bola Perdamaian” di London. Ada Presiden FIFA pertama, Jules Rimet, yang berpandangan kalau sepak bola bisa menjadi wadah meredam konflik antarbangsa, dan sebagai damai di dalam stadion dengan keberagaman budaya antar negara, yang taat pada peraturan dan bisa menjunjung tinggi fair play antartim, antarpemain, antarpendukung bukan mempertontonkan kekerasan.

Hilangnya Spirit Perdamaian

Pada Piala Dunia 2026, pesan permusuhan semakin kental, dan kebencian semakin menguat. Bagaimana para pendukung masing-masing negara tidak hanya mengibarkan bendara negaranya, ada yang dengan lantang mengibarkan bendera Israel dan Palestina. Saling ejek dan adu fisik. Pada patai final pun, tidak hanya adu gengsi dengan tensi tinggi Argentina dan Spanyol, namun seperti perang Argentina yang pro-Israel melawan Spanyol yang pro-Palestina. Pasca pertandingan pun diwarnai dengan perkelahian antar pemain.

Piala Dunia dan sepak bola memiliki spirit yang kuat untuk menyebarkan pesan perdamaian, akan tetapi kalau kekuatan itu rentan dimanfaatkan untuk kepentingan yang jauh dari semangat perdamaian, maka Piala Dunia dan sepakbola menjadi media untuk meningkatkan ketegangan dan memperluas permusuhan antar negara.

Amerika Serikat yang menjadi salah satu negara penyelenggara Piala Dunia, sejatinya ingin menunjukkan kalau Amerika Serikat negara yang heterogen, terbuka untuk siapa pun yang datang, dan negara yang cinta damai. Namun beberapa kali setelah disepakati perjanjian damai, Amerika Serikat seringkali melanggarnya. Jangan-jangan Amerika Serikat menjadikan Piala Dunia ini sebagai ajang sportwashing di antara kepentingan politik dan kekuasaan dunia.

Sebagaimana kritik Simon Kuper, kolumnis dari Financial Times, terhadap FIFA ketika memperkenalkan FIFA Peace Prize. Jangan-jangan upaya FIFA ini sebagai bagian dari praktik yang disebut “sportswashing“, yakni memakai sepak bola dalam rangka menghilangkan jejak rekam negatif di antara pihak yang sedang berkuasa, sehingga citranya tetap bagus di mata publik.***

Baca Juga Berita Lainnya

Ten's Holiday