Ketika Jurnalisme Bertemu Kemanusiaan: Kisah Thoudy Badai yang Menggetarkan

Sabtu, 30 Mei 2026
Ketika Jurnalisme Bertemu Kemanusiaan: Kisah Thoudy Badai yang Menggetarkan

Oleh: Enjang Muhaemin

SENJA belum sepenuhnya hilang ketika langkah itu memasuki ruang Program Studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Tidak ada protokoler mewah. Tidak ada karpet merah. Hanya pelukan, senyum haru, dan rasa syukur yang sulit disembunyikan.

Sosok yang datang sore itu adalah Thoudy Badai, jurnalis foto Republika, alumnus yang pernah belajar di ruang-ruang kelas kampus satu ini.

Kini ia kembali dengan cerita yang jauh melampaui teori jurnalistik yang pernah dipelajarinya.

Wajahnya masih terlihat lelah, tapi aura kebahagiaannya terpancar jelas. Langkahnya tampak belum sepenuhnya ringan, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang berbeda. Pengalaman yang mungkin tidak semua jurnalis berkesempatan, atau mungkin sanggup mengalaminya.

Jumat sore itu, pukul 16.00 WIB, Thoudy menyambangi Program Studi Ilmu Komunikasi Jurnalistik, tempat ia pernah belajar memahami makna berita, keberpihakan pada fakta, dan tanggung jawab profesi kewartawanan.

Kini ia kembali bukan sebagai mahasiswa, melainkan sebagai saksi hidup sebuah tragedi kemanusiaan yang mengguncang dunia.

Misi Kemanusiaan yang Dicegat

Seperti diberitakan berbagai media, beberapa hari sebelumnya, nama Thoudy dan relawan lainnya menjadi perhatian publik setelah dilaporkan ikut ditahan militer Israel saat mengikuti pelayaran misi kemanusiaan “Global Sumud Flotilla” menuju Gaza.

Ada sembilan orang dari Indonesia dalam misi tersebut. Empat di antaranya adalah jurnalis: Thoudy Badai (Jurnalis Foto Republika), Bambang Noroyono (Jurnalis Republika), Andre Prasetyo Nugroho (Jurnalis Tempo), dan Rahendro Herubowo (tim media GPCI dan iNews).

Thoudy Badai dan lainnya berada dalam rombongan relawan internasional yang membawa bantuan logistik dan obat-obatan bagi warga Palestina, yang hidup di tengah blokade, dan krisis kemanusiaan berkepanjangan. Namun, mereka dicegat  oleh pasukan Israel di perairan internasional dekat Siprus. Kemudian dibawa dan ditawan, dengan perlakukan yang tidak manusiawi.

Padahal, mereka datang bukan untuk berperang. Mereka, juga datang bukan untuk memprovokasi. Mereka pun tidak membawa senjata.  Mereka hanya membawa obat-obatan, bantuan kemanusiaan, catatan, dan suara solidaritas dunia untuk Gaza.

Dari Ruang Kuliah ke Zona Konflik

Di ruang prodi yang pernah menjadi tempatnya belajar menulis berita dan memahami realitas sosial, Thoudy bercerita panjang lebar tentang pengalaman yang ia alami bersama para relawan lainnya.

Suasana mendadak berubah hening ketika ia mulai mengisahkan bagaimana kapal layar bantuan itu diawasi, didekati, lalu dicegat oleh kapal perang Israel.

Bagi sebagian mahasiswa, cerita seperti itu mungkin terdengar seperti laporan berita internasional yang biasa mereka baca di layar gawai. Namun sore itu, kisah tersebut hadir langsung dari seseorang yang mengalaminya sendiri.

Dari seseorang yang pernah duduk di kursi yang sama dengan mereka.

Sebagai jurnalis foto Republika, Thoudy sesungguhnya tidak hanya berangkat untuk mendokumentasikan perjalanan kemanusiaan tersebut. Tapi, ia juga menjadi bagian dari denyut solidaritas global yang berupaya menembus blokade Gaza.

Sebagai pewarta foto, ia tak membawa kamera profesional layaknya seorang jurnalis foto. Bukan tidak tahu, juga bukan tidak punya. Tapi ia tahu, situasi dan kondisinya tidak memungkinan untuk membawanya.

Dalam berbagai konflik dunia, termasuk Palestina, keselamatan jurnalis kerap berada dalam ancaman. Mereka berdiri di antara peluru, propaganda, dan kepentingan politik yang saling bertabrakan. Tetapi mereka tetap hadir agar dunia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Thoudy memahami risiko itu.

Namun yang ia pilih bukan sekadar perjalanan jurnalistik.

Ia juga memilih perjalanan kemanusiaan.

Kesaksian Soal Solidaritas Dunia

Di hadapan dosen dan mahasiswa, Thoudy tidak hanya berbicara tentang penahanan atau ketegangan di laut.

Ia berbicara tentang manusia.

Tentang relawan-relawan dari berbagai negara yang meninggalkan kenyamanan rumah demi membantu warga Gaza.

Tentang orang-orang yang percaya bahwa kemanusiaan tidak mengenal batas negara.

Tentang solidaritas yang membuat seseorang rela menempuh ribuan kilometer untuk membantu mereka yang bahkan belum pernah ditemuinya.

Misi Global Sumud Flotilla sendiri mempertemukan aktivis kemanusiaan, jurnalis, tenaga kesehatan, dan relawan dari berbagai bangsa yang memiliki tujuan yang sama:  menghadirkan bantuan dan menunjukkan bahwa penderitaan warga Gaza tidak dilupakan dunia.

Di tengah cerita itu, ruang pertemuan terasa lebih dari sekadar forum diskusi akademik.

Ia berubah menjadi ruang kesaksian. Tidak sedang mendengar kuliah, tapi sedang mendengar sejarah yang baru saja terjadi.

Ketika Jurnalisme Menjadi Panggilan Moral

Bagi keluarga besar Prodi Ilmu Komunikasi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung, kembalinya Thoudy menghadirkan rasa syukur yang sulit disembunyikan. Sebab beberapa hari sebelumnya, keluarga, sahabat, dan koleganya hanya bisa menunggu kabar di tengah ketidakpastian.

Kabar melegakan baru datang setelah para relawan dipastikan selamat dan berhasil berkomunikasi dengan keluarga mereka.

Pengalaman itu meninggalkan jejak yang tidak mudah hilang. Jejak tentang bagaimana kemanusiaan dapat berhadapan langsung dengan kekuasaan.

Jejak tentang bagaimana seorang jurnalis tidak hanya bertugas menulis dan memotret, tetapi juga menyaksikan penderitaan manusia dari jarak yang sangat dekat.

Kunjungan Thoudy sore itu menjadi pengingat penting bagi dunia akademik, bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi.

Ia adalah panggilan moral.

Ia menuntut keberanian untuk hadir ketika banyak orang memilih menjauh.

Ia menuntut keteguhan untuk menyampaikan fakta ketika kebenaran berusaha dibungkam.

Dan di atas semua itu, ia menuntut keberpihakan pada nilai paling dasar dari profesi ini: kemanusiaan.

Dari ruang kuliah di Bandung hingga perairan internasional menuju Gaza, perjalanan Thoudy Badai memperlihatkan satu hal yang sering terlupakan,  bahwa berita terbesar sesungguhnya bukan tentang perang, melainkan tentang manusia yang tetap memilih peduli di tengah perang itu sendiri. ***

 

Baca Juga Berita Lainnya

Ten's Holiday