Kunjungi Pikiran Rakyat, Prodi Ilmu Komunikasi UIN Bandung Serap Kebutuhan Industri Media Modern

ILKOM NEWS — Perkembangan industri media massa yang semakin cepat menjadi perhatian dalam kunjungan media Prodi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung ke Redaksi Pikiran Rakyat di Jalan Asia Afrika No. 77, Kota Bandung, Selasa (4/8/2026).
Dalam pertemuan tersebut, jajaran Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung berdiskusi langsung dengan Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat Irwan Natsir terkait perkembangan dunia jurnalistik, transformasi media digital, hingga kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa komunikasi agar mampu bersaing di industri media.
Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Encep Dulwahab mengatakan, kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan akademik dengan industri media sekaligus menyerap masukan terkait kebutuhan dunia kerja.
Menurut Encep, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan lulusan yang tidak hanya memahami teori-teori komunikasi, jurnalistik, dan kehumasan, tetapi juga memiliki kemampuan praktis sesuai perkembangan industri media.
“Niat kita silaturahim, sekaligus menyampaikan terima kasih karena sudah menerima kami dan teman-teman yang magang, termasuk alumni-alumni yang bekerja di sini. Kedatangan kami juga ingin mendengarkan kebutuhan riil industri terkini,” ujar Encep.
Masukan dari industri media, lanjut Encep, menjadi penting dalam proses penyusunan kurikulum Ilmu Komunikasi agar tetap relevan dengan perubahan zaman.
“Kita sedang melakukan pembaruan kurikulum yang sejalan dengan perkembangan zaman. Karena itu, kami berharap bisa mendapatkan gambaran apa yang dibutuhkan industri saat ini, sehingga kurikulum yang dibangun benar-benar tepat,” katanya.
Tantangan Wartawan di Era Media Digital
Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat, Irwan Natsir menyampaikan, bahwa profesi wartawan saat ini mengalami perubahan besar seiring perkembangan teknologi digital.
Menurutnya, wartawan masa kini tidak cukup hanya memiliki kemampuan menulis berita, tetapi juga harus menguasai berbagai keterampilan multimedia.

Fenomena kompetensi wartawan hari ini terus mengalami dinamika yang terus berkembang sesuai pesatnya perkembangan teknologi. Saat ini, kata Irwan, media online membutuhkan wartawan yang bukan hanya bisa menulis berita, tetapi juga mampu membuat video. Bahkan tak hanya itu, wartawan juga dituntut memiliki kemampuan lain sejalan dengan pertumbuhan pesat era digital.
Irwan menilai, perubahan perilaku masyarakat dalam mengakses informasi membuat media harus terus beradaptasi. Tidak hanya mengandalkan portal berita, tetapi juga memperkuat distribusi konten melalui berbagai platform digital dan media sosial.
“Bisnis media online harus mengikuti perkembangan zaman. Sekarang mulai bergeser dari portal berita kepada media sosial. Jadi wartawan harus bisa menulis untuk website, juga mampu membuat konten untuk media sosial yang lebih banyak bermain pada aspek visual,” jelas Irwan.
Wartawan Harus Memiliki Karakter dan Berpikir Kritis
Selain kemampuan teknis, Irwan menekankan pentingnya karakter dan pola pikir kritis bagi seorang jurnalis.
Menurutnya, wartawan harus memiliki ciri khas dan tidak hanya menjadi bagian dari kerumunan dalam industri media.
Irwan mengatakan, seorang wartawan perlu mampu melihat sebuah isu secara mendalam, memiliki sudut pandang yang kuat, serta memiliki mental yang siap menghadapi dinamika pekerjaan jurnalistik.
Agar menjadi pembeda dari wartawan lain, seorang wartawan profesional juga harus mampu menilai isu secara kritis. “Mental juga harus dipersiapkan,” tutur Irwan.
UIN Bandung dan Pikiran Rakyat Siapkan Kerja Sama
Kunjungan media kali ini juga menjadi dimaksudkan untuk memperkuat kolaborasi antara Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung dengan Pikiran Rakyat.
Ke depan, kedua pihak berencana menjalin kerja sama dalam berbagai kegiatan, termasuk pelatihan jurnalistik bagi mahasiswa.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara dunia akademik dengan industri media, sehingga mahasiswa Ilmu Komunikasi selain menguasai teori, juga memiliki pengalaman dan keterampilan jurnalistik yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Melalui kerja sama, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pemahaman mengenai teori jurnalistik, tetapi juga pengalaman langsung dari praktisi media yang menghadapi perubahan industri setiap hari.***
Baca Juga Berita Lainnya

Kepemimpinan dengan Rasa: Ketika Spiritualitas Menjadi Bahasa Komunikasi dalam Organisasi

Siapa Menulis Cerita Kemerdekaan Kita: Manusia, Media, atau AI?

Prof. Betty Tresnawaty: Komunikasi Spiritual Jadi Fondasi Budaya Organisasi Berintegritas

Pelajaran Demokrasi dari Michigan

AI dan Integritas Akademik


